Menapaki Jalur Trekking Sa Pa Vietnam Di Tengah Sapuan Kabut

Apa atraksi yang kamu suka jika pergi berpetualang ke daerah yang berbukit bukit ? Adakah yang memilih sama seperti kami, pergi trekking. Trekking itu semacam berjalan santai menyusuri jalan jalan setapak di daerah pedesaan melewati jalan berbukit, sungai, sawah, ladang bahkan hutan. Trekking salah satu atraksi wisata yang paling Pak Suami sukai. Alasannya dia bisa melihat lebih dekat alam dan orang di sekitarnya.Itu benar banget ya.

Saat trekking bisa menemukan hal hal yang tak biasa ditemukan dalam kehidupan sehari hari. Misalnya melihat bagaimana penduduk lokal bertani, berladang atau beternak. Alam yang dilihat juga tentu sangat berbeda dari satu lokasi trekking dengan lokasi yang lain. Seperti tempat trekking kami di Sa Pa Vietnam ini, sangat berbeda saat kami trekking di Kalaw Myanmar.

Sapa berada di utara Vietnam. Letaknya di jajaran di kaki bukit Fansipan di propinsi Lao Cai, sejauh 380 km dari Hanoi, ibukota Vietnam. Di sana terdapat beberapa suku kecil yang menempati perkampungan di sekitar kaki bukit Fansipan itu. Antara lain suku Hmong, Dao , Xa Pho dan Tay. Merupakan salah satu tujuan wisata yang sangat favorit di Vietnam.

Untuk sampai ke sini harus menggunakan bus atau kereta ( train ). Kami memilih naik bus dari Hanoi. Sebelumnya kami sudah pesan tiket bus dari 12go.asia jauh hari sebelum kami tiba di Hanoi. Sewaktu mau berangkat ada kesalahan dari pihak travel yang tak menyampaikan pesanan kami ke pihak operator bus padahal kami sudah confirm kedatangan dan hotel kami menginap di Old Quater Hanoi. Old Quater ini pusat turisme di Hanoi.

Jadi jika kamu berniat ke Hanoi, pilihlah penginapan di daerah Old Quarter ini untuk memudahkan mengakses Hanoi. Hampir 30 menit kami menunggu di lobby hotel jemputan tak datang juga. Untungnya pihak hotel mau membantu menghubungi pihak travel. Kami kemudian dijemput oleh pihak travel naik taxi dan mengejar bus yang sudah pergi duluan. O lala kami sudah ditinggal rupanya. Baiklah tak mengapa yang penting pihak travel tanggungjawab mengantar kami mengejar bus yang menunggu kami sudah di luar Old Quarter.

Baca juga : Jelajah Hanoi Kota Seribu Danau .

Ini adalah perjalanan kami kedua kalinya ke Vietnam. Pertama kali dulu kami pergi ke Halong Bay. Sekarang niatnya mau trekking ke daerah pegunungan. Sa Pa adalah pilihan yang paling tepat. Itu berdasarkan hasil pencarian dan baca baca dari artikel perjalanan tentunya macam blog saya ini. Eitss…sambil promosi nih ! hahaha…

Kami sudah menyiapkan trekking pole, sarung tangan, jaket anti hujan dan sepatu yang nyaman untuk dipakai jalan jauh. Jika berniat trekking harus memilih sepatu yang benar benar nyaman dan kuat. Ingat saya dulu trekking di Kalaw Myanmar, tanpa persiapan yang matang membuat saya harus menyerah di tengah jalan. Ujung jari jari kaki saya lecet karena sepatu yang tak nyaman untuk jalan jauh.

Setelah perjalanan naik bus selama 6 jam dari Hanoi kami tiba di Sa Pa jam 13.30. Oh iya, jenis bus kami ini adalah sleeper bus yang tempat duduknya bisa untuk tiduran santai. Saya lupa harga tiketnya karena ini perjalanan tahun Oktober 2018. Dari Hanoi jalan masih lurus saja, tapi begitu masuk jalan menuju Sa Pa jalanan mulai naik berbelok. Udara semakin dingin. Ini membuat saya tak nyaman dengan semi sleeper ini. Membuat saya mual dan pengen muntah. Padahal pemandangan di sekitar pegunungan sangat bagus. Terlihat sawah terasering yang di berjejer di kaki bukit. Saya lebih banyak memejamkan mata jadinya.

Nah, ini yang perlu diingat. Kalau datang ke Sa Pa jangan bulan sesudah musim panen karena yang terlihat hanya sawah yang dibiarkan mengering tak ditanami menunggu musim bertanam. Baiknya datang sebelum panen tiba saat sawah masih menghijau dan menguning. Pemandangan menjadi lebih bagus lagi. Musim paling bagus sekitar Juni sampai Agustus. Bulan Oktober sudah masuk musim dingin pemandangan lebih banyak terlihat berkabut karena Sa pa ini berada di tempat yang lebih tinggi.

Pegunungan Fansipan. Sa Pa berada di kaki bukit dalam kabut tebal itu …

Dari stasiun bus Sa Pa kami berjalan kaki menuju hotel yang sudah saya pesan dari situs online. Pusat kota Sa Pa tak terlalu besar jadi tak terlalu sulit mencarinya. Hotel pesanan kami berada di belakang jalan utama kota. Kami harus melalui tangga yang lumayan bikin ngos ngosan. Jumlah turis yang datang saat itu sangat ramai. Kebanyakan mereka orang lokal. Anak anak muda juga orang berkeluarga. Mungkin karena akhir pekan jumlah yang datang lebih banyak. Kota terlihat samar samar karena sebagian kabut yang menutupinya. Udara menjadi sangat dingin. Brrr…untung sudah siapkan jaket.

Pemandangan dari sebuah cafe menikmati kota Sa Pa yang tenggelam dalam kabut.

Hari pertama tiba kami hanya melihat lihat kota. Ada sebuah gereja tua di tengah kota. Sepertinya di sana adalah pusat keramaian karena ada lapangan besar dan pasar souvenir tempat orang lokal menjajakan dagangannya. Saya membeli tenunan lokal semacam hiasan yang digantung di dinding. Di sini harus pintar menawar untuk mendapatkan harga yang sesuai dengan barang yang kita pilih.

Gereja Tua di tengah kota Sa Pa

Setelah keliling kota menjelang malam kami masuk ke sebuah restaurant hot pot untuk makan malam. Banyak restaurant berada di jalan utama pusat kota Sa pa. Tak perlu khawatir untuk mencari tempat makan. Di sudut persis di pengkolan jalan ada sebuah caffe. Caffe ini tempat minum coklat yang enak sambil memandangi jalanan yang penuh orang di dalam sapuan kabut. Suasana malam kelihatan lebih horror karena kabut yang semakin tebal. Namun orang orang di dalam caffe tetap ramai duduk bersenda gurau sambil menikmati hidangan masing masing.

Besok harinya kami dijemput oleh supir dengan minivan menuju lokasi jalur trekking. Untuk trekking bisa dibooking online saat pemesanan hotel atau on the spot saat check in. Ada sepuluh orang kami dalam satu team dipandu seorang guide perempuan yang masih muda. Guide ini memaandu kami sambil menggendong anaknya yang masih berumur 5 bulan. Rupanya hal ini biasa di sana. Seorang ibu yang bekerja bisa membawa anaknya di gendongannya karena si bayi masih harus menyusui dengan ibunya. Ibu muda ini sangat tangguh, dia bisa berjalan dengan entengnya memandu kami padalah sambil menggendong anak di punggungnya. Sementara saya harus banyak berhenti karena ransel di punggung saya terasa makin membebani.

Jalur trekking melalui sawah ladang penduduk

Saat kami trekking ada beberapa ibu yang mengikuti kami. Awalnya saya pikir mereka ini pemandu juga. Ternyata bukan. Mereka adalah pedagang souvenir yang menawarkan jasanya untuk membantu kita saat trekking tapi kemudian mereka minta bayaran dengan menawarkan dagangan mereka. Jika tak ingin terganggu dengan kehadiran ibu ibu ini bisa ditolak dengan halus dari awal mereka mengikuti kita. Saya tadinya tak tahu demikian. Saya senang saja dibantu mereka terutama di jalanan menanjak dan berlumpur. Sampai di tempat tujuan mereka minta bayar baru saya ngeh..o lala. Tapi tak mengapalah, toh mereka juga mintanya ga banyak kok. Mereka ini sebenarnya adalah petani. Tapi karena musim panen sudah berlalu maka mereka mencoba mencari penghasilan tambahan dengan cara mengikuti turis yang sedang trekking.

Saya dibantu ibu ibu yang mengikuti kami sepanjang jalan dengan barang dagangan di punggungnya.

Perjalanan kami melewati perkampungan penduduk, sawah ladang dan jalan berbukit yang becek berlumpur. Sayang sekali sawah teraseringnya sudah dipanen. Kami hanya bisa melihat sisa batang padi yang dibiarkan menunggu musim bertanam berikutnya. Jalan yang kami tempuh sekitar 14 km. Sepanjang jalan kabut meneyrtai perjalanan kami. Pemandangan yang terlihat juga jadi samar samar. Semua dalam sapuan kabut. Seperti berada dalam negeri di awan.

Sebuah jembatan tua dalam perjalanan. Pemandangan terasering tersapu kabut.
Melalui jalan setapak yang becek berlumpur.

Kami tiba di sebuah restaurant di atas bukit untuk makan siang. Harga paket trekking yang kami ambil sudah termasuk makan siang. Di sini makan siangnya menjadi terasa lebih nikmat karena rasa lapar yang membuncah. Paling enak rasa tahu sambal tomatnya. Saya sampai minta tambah. Sehabis makan siang istirahat sebentar. Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi.

Lelah tapi bahagia bisa melihat pemandang cantik menyatu dengan alam.

Kami melewati jalur berbeda. Kali ini jalanannya menurun melewati jalan perkampungan yang sudah diaspal meskipun masih terlihat berlumpur akibat hujan. Kaki mulai terasa pegal karena jalan menurun ini. Di ujung jalan kami sampai ke sebuah perkampungan. Ada sebuah pasar di sana tempat orang lokal berjualan sayur mayur dan hasil bumi lainnya. Ada juga toko souvenir berderet di sana. Setelah melihat lihat sebentar kami melanjutkan lagi perjalanan. Keluar dari perkampungan ini melalui sebuah jembatan kami tiba di ujung perjalanan di mana supir minivan sudah menunggu kami untuk kembali ke hotel masing masing.

Baca juga kisah lainnya : Mencari Pulau Tengkorak

“in every walk with nature one receives more than he seeks”

~John Muir~ Mountaineer

16 Comments

  1. Selalu dibuat salut dan tersepona…eh terpesona dengan perjalanannya. Meskipun tertutup kabut tempatnya eksotis juga. Btw…jembatan tua itu masih bisa dilewati kah kak?.

    Suka

  2. Menempuh jalan 14 km itu ditenpuh dalam jangka waktu berapa jam? Jauhnya jarak tenpuh pasti tidak terasa, dan terbayarkan dengan keindahan yang dinikmati selama perjalanan.

    Suka

  3. Baca bagian ibu-ibu pedagang souvenir saya kok jadi ingat orang yang beratraksi dengan ular saat ada acara besar di kota kami. Jadi dia kayak ramah gitu, menawarkan memegang ularnya yang jinak. Ular besar …. phyton apa ya …. anak saya mau saja, dan ular itu melilit di tubuh anak saya lalu saya foto. Eh, orang itu minta bayaran dong hahaha. Saya gak ngeh, saya pikir gratis soalnya dia gak bilang kan sejak awal. Abis itu saya yang “tepuk jidat” sendiri ya gimana gratis kali ya …. mikir dong, ngapain ada orang beramah-ramah menawarkan ularnya digendong sama kita kalau bukan buat cari duit. Untungnya dia minta gak mahal πŸ˜€

    Suka

    1. wah…kalau saya udah lari tunggang langgang itu lihat ular phyton hahahaha. Iya, kalau minta bayarnya ga mahal atau ga maksa sih ga apa apalah, yang bikin kzl kalau ga ramah maksa pulak ! ggrrhhh…

      Suka

  4. Indah banget pemandangannya apalagi liat bunga merah di kafe kota sa cocok sama pemandangannya, saya malah suka liat kabutnya mba lebih dramatis gitu jadi melengkapi pemandangan hehe

    Suka

  5. Saya sudah terbiasa dengan kabut di luar rumah sejak beberapa bulan lalu begitu masuk musim penghujan. Kelabu dan muram. Tapi tentunya tidak terasa horor jika di kampung karena biasanya kabut akan pecah sendiri, lain halnya di bentang pegunungan luar rumah, kabut masih tebal menyelimuti.

    Jangan jalan di tengah pematang sawah saat berkabut karena bisa nyasar kejeblos lumpur, hi hi.

    Tapi bagus juga pemandangan langit masih biru di atasnya dan kabut di bawahnya. Tetasa cerah sekaligus suram yang kontras.

    Jalan-jalan di malam berkabut meski di tengah kota pastinya horor. Tapi setidaknya bisa merasakan suasana lain di kota asing yang eksotik.

    Fotonya cantik. Benar, kayak di negeri awan.

    Suka

  6. Wah bagusnya pemandangannya, Mbak Risma. Terakhir trekking ke lereng Gunung Arjuno itupun udah dua tahun lalu sebelum pandemi. Jadi kangen menghirup udara segar. Suka banget liat foto-foto perjalanannya.

    Suka

    1. Sebenarnya mereka sediakan juga sepatu boot khusus trekking tp kami pilih pakai sepatu sendiri, lebih nyaman di kaki cuman resikonya sih sepatu penuh lumpur, bersihkannya yg susah, kalau rencana trekking baiknya bawa sepatu cadangan juga atau sewa aja sepatu bootnya. Biar lebih aman.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.