Pengalaman Keliling Eropa Terjebak Lockdown

Kisah ini merupakan perjalanan saya yang ketiga kalinya ke Eropa. Tapi setiap kami ke Eropa selalu bersamaan dengan musim panas. Kali ini saya dan Pak Suami ingin menikmati sejuknya udara musim dingin di Eropa dan ingin menikmati si cantik Aurora di kota paling ujung Norwegia, Tromso. Perjalanan kami mulai dari Amman Jordania awal Maret 2020 karena domisili kami pada waktu di Amman.

Pada saat itu virus corona sudah merebak sampai ke Eropa terutama di Italy. Pengunjung yang datang dari Italy tak lagi diterima di beberapa negara termasuk Jordania. Belum ada larangan secara global untuk pergi bepergian, hanya travelling warning yang dikeluarkan beberapa negara. Belum ada juga negara memberlakukan larangan keluar masuk dari satu negara ke negara lain. Kami yang seharusnya pulang saat itu ke Indonesia karena kontrak kerja Pak Suami sudah habis di Jordani. kami memilih pulang lewat Eropa daripada lewat Dubai dengan pertimbangan mahalnya harga tiket yang tersedia dari Amman-Dubai-Kualalumpur-Medan. Harga tiket dari Eropa jauh lebih murah. Jadi kami ambil tiket pulang dari Amsterdam-Kualalumpur-Medan saja sekalian liburan ke Eropa. Demikianlah pertimbangan kami saat itu yang disetujui oleh kantor pusat tempat Pak Suami bekerja.

Sambil mempersiapkan akomodasi dan rencana perjalanan selama di Eropa kami tetap memantau perkembangan penyebaran virus corona ini. Tapi belum ada larangan untuk terbang sama sekali. Persiapan dan rencana perjalanan sudah matang. Semua tiket sudah dipesan termasuk hotel sudah dibooking. Kami akan memulai perjalanan dari Amman menuju Praha. Penerbangan hanya empat jam saja dari Amman dengan harga tiket relatif murah untuk penerbangan menuju Eropa. Kami memilih Ry*n Air yang menawarkan paket tiket lowcost, hanya saja kami harus menghitung sendiri biaya bagasi yang walaupun setelah ditotal masih jauh lebih murah dibandingkan penerbangan lainnya. Artinya jika tak ada bagasi harga tiket bisa jadi sangat murah sekali dengan catatan kita harus web check in sendiri sebelum 48 jam terbang. Jika check in di bandara akan dikenakan biaya sebesar 40 Euro. Paket hemat tapi syarat dan ketentuan berlaku, demikianlah.

Dari Bandara Queen Alia International kami melalui pproses check in seperti biasanya, tak ada pengecekan berlebihan. Orang orang di bandara masih lalu lalang masih sedikit yang menggunakan masker. Boleh dibilang seperti tidak terjadi apa apa sebagaimana kehebohan berita di media online. Hanya petugas bandara yang terlihat semuanya menggunakan masker. Kamipun sudah melengkapi diri dengan menggunakan masker dan membawa handsanitizer sesuai anjuran yang berlaku pada saat itu dari WHO. Di dalam pesawatpun kami masih duduk berdampingan seperti biasa, belum ada pemisahan jarak atau soscial distancing. Belum ada kewajiban menggunakan masker kecuali yang sedang sakit. Belum ada penggunaan yang namanya face shield.

Tiba di bandara Prahapun keadaan adem ayem saja. Di sini orang sangat jarang memakai masker, bahkan petugaspun tak terlihat memakai masker. Proses di imigrasi berjalan lancar. Sempat terpikir juga, apa di sini tak ada virus ya, kok semua terlihat biasa biasa saja. kami meneruskan perjalanan dari bandara menuju hotel tempat kami menginap dengan menggunakan bus dan tram. Juga tak terlihat orang orang pakai masker. Semuanya berjalan normal. Tiba di hotel, saat check in kami melihat rombongan turis Asia sedang mengantri untuk check in. Semakin kami yakin tidak ada apa apa yang terjadi sebenarnya. Rasa khawatir sedikit berkurang karena masih banyak turis ternyata yang melancong, begitu pikiran kami. Kami beristirahat malam itu dengan tenang dan nyaman sambil membayangakan besoknya akan memulai petualangan yang mengasyikkan di Praha.

Charles Bridge-Prague

Ya, Praha, kota cantik di bekas Eropa Timur ini sudah sangat lama ingin saya kunjungi. Meskipun sudah pernah berkeliling Eropa baru ini kesempatan saya bisa datang ke kota Praha. Paginya sesudah sarapan di hotel kami memulai perjalanan dari hotel dengan menggunakan tram menuju kota tua untuk melihat Charles Bridge yang terkenal itu. Udara masih terasa sejuk karena ini awal musim semi. Turis masih banyak terlihat di sana, bahkan boleh dibilang cukup ramai karena kebetulan hari itu adalah akhir pekan. Tak terlihat orang menggunakan masker, semua berjalan seperti biasa saja. Kami tak hanya mengelilingi kota tua Praha yang cantik itu, juga bertemu teman suami saya yang kebetulan tinggal di Praha, mereka orang Czhech. Kami menikmati bir di sebuah bar yang tak terlalu ramai pengunjung tapi cukup enak untuk dijadikan tempat ngobrol. Orang Czhech sangat percaya bir buatan merekalah yang paling enak dan mereka peminum bir yang handal, minum sampai bergelas gelas tidak mabuk. Obrolan seputar merebaknya wabah covid pun tak luput mereka perbincangan, tapi tak ada terlihat mengkhawatirkan. Tak lupa kami juga menikmati pork knuckle makanan khas lokal yang nikmat rasanya. Kami menghabiskan tiga malam empat hari di Praha.

Wow, nikmat rasanya bisa mencobai rasa beer Czech

Tujuan kami selanjutnya adalah Berlin dengan menggunakan train. Penumpang masih terlihat ramai meskipun tak berdesak desakan. Untuk perjalanan keliling Eropa kali ini kami banyak menggunakan train dan bus. Untuk rute panjang kami gunakan train supaya tak makan waktu lama di jalan, sedangkan rute singkat kami gunakan bus. Bus merupakan pilihan yang baik selain harganya yang lebih murah, kami juga bisa menikmati pemandangan lain selain yang dilalui jalur train. Tiba di Berlin udara sangat dingin menusuk karena angin berhembus kencang ditambah hujan sepanjang hari. Brrrrhh dingin sangatlah kota Berlin ini. Berlin merupakan ibukota Jerman. Kota yang sangat padat dan sibuk. Orang lalu lalang berjalan ke sana ke mari. Tak banyak yang kami lihat di sini selain Tembok Berlin yang fenomenal itu. Selebihnya hanyalah gedung gedung besar yang masih bergaya Eropa tapi kurang menarik bagi saya. Mungkin kami harus tinggal lebih lama lagi di Berlin untuk bisa menelusuri tempat menarik lainnya.

Tembok Berlin penuh dengan lukisan dinding atau mural disebut sekarang East Side Gallery
Fernsehturm atau menara TV Berlin

Di Berlin kami tetap berusaha menikmati perjalanan walaupun sedikit ada rasa wasawas karena penyebaran virus masih saja terus merebak dan diberitakan di internet. Dari Berlin kami melanjutkan perjalanan ke Hamburg dengan menggunakan bus. Di tengah perjalanan kami mendapat berita dari teman kami yang tinggal di Oslo salah satu tempat persinggahan kami nantinya mengabarkan bahwa Scandinavia sudah melakukan lockdown. Orang orang yang masuk ke negara negara Scandinavia mulai di karantian 14 hari dan orang tak lagi bisa keluar rumah. Tentu kabar ini mengagetkan kami. Bagaimana ini ? Adapun kota yang sudah kami rancang untuk kami lalui berikutnya adalah Copenhagen, Gothenburg, Oslo, Tromso, Bergen dan Amsterdam sebagai tempat terakhir. Untuk Norwegia kami pilih naik pesawat karena lebih murah dan praktis dibandingkan kami harus sambung menyambung naik train dan bus. Dengan adanya berita dan pengumuman lockdown yang diberlakukan pemerintah negara negara Scandinavia otomatis kami tidak bisa meneruskan perjalanan lagi ke sana dan harus putar arah.

Kami mencoba menenangkan diri walaupun tak benar benar tenang lagi, mencoba untuk tidak panik. Scandinavia lockdown dan kami tak ingin terjebak di sana dengan memaksakan masuk ke Scandinavia. Padahal segala galanya sudah dipesan dan dibayar. Pesanan tiket pesawat S*S di Norwegia segera kami batalkan dan kami minta refund. Pak Suami langsung mengontak kantor pusat tempatnya bekerja menanyakan bagaimana tiket pulang dari Amterdam jika kami tak bisa meneruskan perjalanan dan meminta jadwal pulang dipercepat saja. Kami juga tak ingin terjebak lockdown di Jerman, posisi kami saat itu.Saya juga sibuk mencari rute lain yang bisa kami lewati meskipun di hati kecil saya masih tetap berharap masih bisa meneruskan perjalanan sampai tuntas. Mimpi saya untuk melihat si cantik Aurora sudah hampir nyata dan tinggal beberapa langkah lagi tiba di Tromso harus saya tahan duu dalam hati. Saya sudah membayangkan betapa indahnya warna warni cahaya malam di kutub es itu seperti yang ada di photo photo travelling yang sering saya lihat. Tapi sepertinya rencana untuk melihat aurora harus terhenti akibat lockdown.

Hamburg kota pelabuhan terbesar di Jerman
St. Nicolai Memorial, yang tertinggal hanya menara gereja setinggi 76 meter.

Kami mencoba tetap menikmati perjalanan kami selama masih di Hamburg, kota pelabuhan terbesar di Jerman. Cuaca masih terasa dingin menusuk di kulit apalagi angin berhembus kencang di sekitar pelabuhan membuat badan jadi menggigil. Dibandingkan Berlin, kota Hamburg masih lebih terasa suasana Eropanya karena lebih banyak bangunan banguan tua dan gereja di sekitar pelabuhan dan di kota tuanya. Saya lebih menyukai Hamburg daripada Berlin yang lebih metropolitan dan super sibuk. kami mengunjungi satu gereja besar yang terbakar akibat ledakan bom perang dunia kedua yang menyisakan hanya menara yang menjulang tinggi. Tempat ini disebut St. Nicolai Memorial.

Kami juga menikmati sausage lokal yang terkenal enak itu dari Jerman. Hmmm…meskipun hati tak menentu karena intimidasi lockdown tapi makan enak itu tetap harus, karena untuk tetap semangat dan jaga stamina harus ada asupan makanan yang mencukupi. Masalah jangan dihadapi dengan stress tapi dicari jalan keluarnya, karena konon katanya stress bisa memicu immunitas tubuh berkurang, sementara virus corona ini paling suka menghinggapi orang yang staminanya sedang lemah. kami tetap menjaga kondisi kami jangan sampai jatuh hanya karena memikirkan bagaimana jalan pulang nantinya sambil saya mulai menghitung biaya pengeluaran jika Eropa benar benar lockdown dan kami terjebak di sana.

Perjalanan sudah pasti tak lagi kami teruskan menuju Copenhagen karena kami tak mau terjebak lockdown di sana. Lagipula kalau harus karantina dulu waktu kami akan habis percuma dan itu hal yang tak mungkin kami lakukan. Kamipun mengubah arah perjalanan kami menuju Bremen. Kami memilih kota yang mendekati Amsterdam karena kami dari salah kami nantinya terbang menuju Indonesia. Pilihan kami alternatif adalah kota Bremen yang tak jauh dari Hamburg dan tak ada dalam daftar perjalanan sebelumnya. Kami juga harus mencari hotel baru untuk penginapan berikutnya. Sementara itu juga kami segera mengajukan refund ke Travel*ka untuk bookingan hotel meskipun pilihan pesanan nonrefundable tapi kami terus mencoba mengajukan permohonan refund dikarenakan kondisi yang tak memungkinkan kami masuk ke negara tujuan.

Akhirnya kami sampai ke kota Bremen sebagai lanjutan perjalanan kami yang gagal ke Copenhagen. Perjalanan hanya satu setengah jam dari Hamburg dengan naik bus. Pada saat kami masih di Jerman belum diberlakukan lockdown tapi social distancing. Efek social distancing ini sangat terasa di kota Bremen. Kota terlihat sangat sepi. Beberapa pengunjung di kota tua tempat turis biasa ramai pengunjung terlihat sepi. Hanya ada beberapa turis yang masih mondar mandir termasuk kami. Toko toko sudah banyak yang tutup, juga restaurant. Angkutan umum masih berjalan normal, hanya duduknya ga boleh dekat dekat harus berjauhan meskipun belum ada peraturan wajib menggunakan masker. Jujur saja kami sebenarnya sudah mulai tak nyaman dengan. kondisi ini. Bagaimana kalau percepatan tiket pulang kami tak disetujui. Bagaimana kami bisa pulang nantinya jika Jerman juga melakukan tindakan lockdown? Ke mana kami harus pergi, apa yang akan terjadi kemudian ? Ah, sudahlah berserah saja sambil melakukan langkah langkah yang mesti kami lakukan. Selama di Bremen kami belum juga mendapatkan kejelasan kapan kami bisa pulang ke Indonesia begitupun kejelasan refund pesanan hotel dari Travel*ka. Kami mencoba menikmati suasana Bremen yang tak terlalu ramai sambil minum bir di tepi sungai menikmati sejuknya musim semi yang baru datang.

Di tepi sungai Weser, Bremen
Cantiknya Cherry blosom tak tahan untuk tidak photo padahal hati lagi galau.

Dari Bremen kami melanjutkan prerjalanan ke Osnabruk sebuah kota kecil yang tak jauh juga dari Bremen tapi sudah mendekati perbatasan ke Belanda. Bangunannyapun sudah agak mirip dengan bangunan rumah di Belanda. Kami naik bus yang isinya hanya kami berdua, saya dan Pak Suami. Meskipun kami hanya berdua, bus tetap berangkat tepat waktu dan tiba tepat waktu. Ah, untunglah masih ada bus yang masih beroperasi kalau tidak kami harus putar otak lagi menuju kota lain yang mudah dicapai aksesnya menuju Amsterdam.Sambil menunggu kepastian tiket Pak Suami mencoba menghubungi salah satu teman kerjanya dulu sewaktu kami masih di Myanmar. Menurut info dari teman itu Netherlands juga sudah melakukan lockdown. Hotel, restaurant dan sekolah sudah ditutup. Orang orang bekerja dari rumah saja. Kami mulai panik! Bagaimana ini, kami harus ke mana ? Tetapi teman kerja Pak Suami itu tetap menyarankan kami datang saja ke Amsterdam jika sudah ada kejelasan tanggal keberangkatan pulang. Sementara ini kami tetaplah harus di Jerman, karena Jerman belum melakukan peraturan lockdown, hanya social distancing sehingga kami masih bisa bebas bergerak menuju Osnabruk.

Kota Tua Osnabruk, kota kecil yang cantik

Di Osnabruk kami baru mendapatkan informasi kepastian tanggal kepulangan kami. Segera kami bergegas menuju Amsterdam. Di stasiun kereta kami dijemput oleh teman kerja Pak Suami dan mengijinkan kami menginap semalam di rumahnya karena tak ada lagi hotel yang buka dan menerima tamu. Selama berada di Amsterdam kami menyempatkan diri mengelilingi kota Amsterdam yang terlihat sangat sepi karena toko toko dan restaurant semuanya tutup, hanya ada minimarket yang masih buka. Selama lockdown hanya grocery yang diijinkan buka. Kami seperti di kejar kejar badai sampai kami bisa merasa nyaman sesudah sampai di bandara Schipol. Tapi kami masih merasa beruntung, meskipun kami harus pontang panting mengubah rencana perjalanan kami masih bisa pulang sesuai jadwal yang ditentukan. Di bandarapun kami harus tetap menunggu konfrimasi dari pihak bandara transit apakah kami bisa terbang atau tidak, karena beberapa bandara transit tak lagi melakukan penerbangan international dan kami lolos sampai ke Indonesia. Sehari kemudian Indonesia menutup bandara untuk penerbangan international !

Amsterdam kota dikeliling kanal
Kota para pesepeda, mereka jadi raja jalanan di sini

Demikian cerita kami terjebak lockdown tapi masih bisa lolos karena kami segera memutuskan untuk pulang saja daripada meneruskan perjalanan tapi dengan arah dan tujuan yang tak jelas. Terbayangkan berapa dana yang akan habis jika kami bena benar terjebak di sana karena secara bersamaan hampir semua bandara di dunia international melakukan penutupan penerbangan antar negara. Di satu sisi kami mendapatkan perjalanan yang menarik yang tak kami duga dan rencanaan sebelumnya. Dari perjalanan ke Bremen dan Osnabruk, dua kota kecil yang tak pernah ada daftar perjalanan saya tapi menjadi sangat terasa indah karena kota ini benar benar masih terasa keoriginalannya karena tak ada kerumunan turis yang biasa ramai. Saya juga melihat bahwa setiap sudut Jerman itu meskipun kota kecil layak untuk dikunjungi sekedar menambah wawasan tentang Eropa, bahwa Eropa itu tak hanya kota kota besar yang terkenal tapi ada juga kota kota kecil yang justru leih menarik bagi kami.

Banyak cerita dan keunikan yang kami selama selama 10 hari dari rencana 21 berkelana di Eropa itu selama jelang musim semi lalu. Nanti akan saya ceritakan secara terpisah saja di judul berikutnya dan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga sekali bagi kami untuk di kemudian hari untuk lebih berhati hati jika mau berencana bepergian jauh dalam jangaka panjang. Tetap ikuti berita berita seputar travelling dari mancanegara juga agar memperhatikan travelling warning yang dikeluarkan oleh pemerintah terutama jika ada informasi merebaknya suatu virus jangan dianggap remeh dan sepele karena bisa merusak semua rencana yang sudah disusun matang.

Sementara refund booking hotel dari Travel*ka dan tiket pesawat dari S*S akhirnya bisa kami terima selalu masa tunggu dan proses yang panjang. Puji Tuhan, meskipun ada potongan tapi tetap harus disyukuri mengingat banyaknya jumlah kerugian yang kami alami saat lockdown tersebut. Tak hanya materi tapi secara mentalpun sangat terasa melelahkan. Tetapi selalu ada pelajaran yang bisa didapatkan dari setiap kejadian dalam perjalanan bukan ? Niat yang ingin bersenang senang tapi harus berbelok arah menjadi perjalanan yang menegangkan yang meskipun berakhir baik.

Akhir perjalanan sebelum pulang kampung ke Indonesia

Tamat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.