Jelajah Wadirum: Mencari Yang Tersembunyi Di Belantara Padang Gurun

Ini kunjungan kedua kali kedua kali ke padang gurun Wadi Rum. Wadi Rum terlalu luas untuk dijelajahi hanya sekali kunjungan saja. Kunjungan pertama rasanya belum puas karena hanya ambil jeep tour 5 jam saja. Sementara keinginan untuk mendaki atau trekking tak terlampiaskan karena waktu yang terbatas.

Rasa penasaran akan misteri yang tersimpan di padang gurun Wadi Rum ini, kami memutuskan untuk kembali lagi. Bulan Februari cuaca masih dingin dan tak terlalu panas di siang hari. Waktu yang tepat untuk trekking atau mendaki pebukitan yang ada di sekitar Wadi Rum.

Wadi Rum merupakan padang gurun terluas di Jordania sampai ke perbatasan Saudi Arabia. Di sini banyak dilakukan shooting pembuatan film seperti Starwars, Martian, Lawrence of Arabia dan lain sebagaianya. Di malam hari, jika langit cerah di langit bisa melihat bintang bertaburan dan gugusan galaxy.

Perjalanan kami tempuh 3 jam dari Amman dengan Jett Bus Tour, transit dulu di Petra, kemudian pindah bus menuju Wadi Rum selama 2 jam. Belum ada bus langsung dari Amman ke Wadi Rum kecuali naik taxi.

Jam 1.30 siang kami tiba di Wadi Rum Visitor Center. Kami dijemput oleh pemilik tenda yang telah saya pesan online. Pemesanan cukup mudah tanpa harus bayar dulu dan tanpa kartu kredit, cukup cantumkan data lengkap dan nomor yang bisa dihubungi.

Hilal, pemilik tenda sewaan menawarkan trekking naik gunung tertinggi di Jordania di perbatasan dengan Saudi Arabia. Kami akan dibantu oleh seorang penunjuk jalan naik ke atas. Tour ini akan memakan waktu seharian, bersama guide akan membawa makan siang sekalian.

Sore hari pertama kami  langsung dibawa keliling jeep tour oleh Hilal sebagai driver kami hari itu. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah sumber mata air yang ada di Wadi Rum sejak dari zaman nenek moyang orang Bedouin.

IMG_0072 (2)Gunung batu di sekitaran Lawrence Spring, di bawahnya tempat kami makan siang

Mata air itu kemudian dinamai Lawrence Spring. Di sini dibuat semacam selokan kecil tempat penampungan air untuk minuman unta. Penduduk lokal memanfaatkan mata air ini sebagai sumber air dalam kehidupan sehari hari.

IMG_0049 (2)Unta sedang minum di Lawrence Spring

Kami makan siang ditenda yang disediakan di lokasi ini. Makan nasi ayam khas masakan lokal yang dipesan oleh Hilal dari sebuah restorant di perkampungan Bedouin.

Setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan ke lokasi lain, Khazali canyon. Di sini kami melihat ada lukisan dan tulisan yang yang diukir di dinding canyon yang berbatu. Kemudian kami lanjut ke Little Rock Bridge, bekas rumahnya Lawrence of Arabaia  dan terakhir menunggu matahari tenggelam sebelum kami menuju ke tenda tempat kami akan menginap.

IMG-4459 (2)Khazali canyon

IMG-4472 (2)Inscription, tulisan di tembok batu di dalam Khazali Canyon.

IMG_0214 (2)Dari atas Little Rock Bridge

IMG_0256 (2)Rumah tempat Lawrence of Arabia dulu tinggal

IMG_0230 (2)Balancing stones di atas bukit tempat rumah Lawrence of Arabia

IMG_0267 (2)Menunggu matahari teenggelam, akhir perjalanan hari pertama

Kami makan malam di tenda, sebelumnya kami telah pesan dahulu, Mereka tak bisa menyediakan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. kami menikmati juga minum teh bersama pemilik tenda sambil menghangatkan badan di tungku kayu bakar yang disediakan di tengah tenda.

IMG_0309 (2)Menghangatkan diri di depan tungku bakaran

IMG_0292 (2)Makan malam ala Bedouin

Menjelang tengah malam kami keluar melihat gugusan bintang. Langit cerah dan suasana yang gelap gulita, lampu sengaja dipadamkan seminim mungkin. Bintang di langit terlihat gemerlapan banyak dan indah sekali. Kami beruntung bisa menikmati indahnya malam selama dua malam di Wadi Rum.

IMG_0341 (2)Tenda tempat kami menginap, Wadi Rum Desert base camp, harga menginap bisa dicek online di bookingdotcom

IMG_0351 (2)Pemandangan dari dalam tenda

Perjalanan hari kedua, kami berangkat dari tenda keesokan paginya jam 9 setelah sarapan pagi. Perjalanan hampir sekitar 1 jam menuju perbatasan di mana gunung tertinggi itu berada. Di sepanjang jalan kami menikmati luasnya padang gurun. Ada bukit berbatu, hamparan pasir merah luah, tanah tandus dan tanaman gurun yang mengering kekurangan air.

IMG_0378 (2)Jalan lintasan menuju gunung tertinggi di Jordania, tandus dan gersang bebas macet.

Walaupun sudah pernah ikut jeep tour, rasa terkagum kagum akan apa yang tersembunyi di dalam padang gurun ini masih tetap ada. Banyak yang belum kami lihat dari tour sebelumnya.

IMG_0430 (2)Siq Um Tawaqi, jalan menuju perbatasan letak gunung tertinggi di Jordania itu, melintasi padang padang gurung yang luas di depannya.

Kami melihat seekor unta betina yang sedang menyusi anaknya, kaki indungnya diikat supaya tak lari terlalu jauh. Tempat kami menginap itu memang kebetulan jalur unta melintas. Unta ini sengaja dilepas tapi dengan kaki terikat untuk cari makan di padang gurun.

IMG_0366 (2)Ketemu kawanan unta yang sedang merumput, kulitnya berbulu halus dan bersih

Satu jam perjalanan kami tiba di kaki gunung Jabbal Um Ad Dami. Sepertinya tak banyak yang datang trekking ke gunung ini, karena letaknya yang agak jauh ke perbatasan. Ada satu jeep yang sudah parkir duluan dari kami.

Perlahan kami naik, bertiga saja, saya, suami dan guide. Dari bawah terlihat gunung tak begitu tinggi, masih mudah menaiki, tak terlalu terjal. Rupanya ini masih puncak pertama yang terlihat dari bawah.

IMG_0463 (2)Menaiki bebatuan menuju puncak gunung

Setengah jam pertama masih enteng naik ke bukit pertama karena masih hanya menanjak saja. Naik ke bukit kedua mulai berat dan ngosngosan karena sudah lebih terjal, sedikit berbahaya. Kami harus lebih hati hati memijakkan kaki di bebatuan keras itu. Saya sempat menyerah tak mau melanjutkan.

Tapi rasa penasaran akan puncaknya membuat saya tetap menapaki jalan berbatu itu sampai ke puncak kedua. Dari sini terlihat pemandangan yang indah mengarah ke Wadi Rum. Masih ada satu bukit lagi dari puncak Ad Dami. Kami ketemu pasangan turis lain beserta guidenya yang sedang turun bukit. Mereka rupanya pemilik jeep yang ada di bawah.

IMG_0441 (2)Dari puncak kedua pemandangan makin terlihat cantik dan indah

Setelah mengumpulkan tenaga dan mengatur nafas, kami menjejaki sampai ke puncak ketiga. Kami berhasil meraih puncaknya. Dari sini pemandangan benar benar indah dan menarik. Spektakuler karena bisa melihat keliling 360 derajat seluruh padang gurun sampai ke perbatasan Saudi Arabia.

IMG_0466 (2)Bersama Mr Guide di puncak gunung Jabbal Umm Ad Dami di ketinggian 1.854 m

Lega rasanya bisa sampai puncak walau dengan tertatih. Sekitar setengah jam kami duduk menikmati keindahan alam ini. Kemudian kami turun dari puncak gunung. Perut sudah mulai terasa lapar. Lamanya kami naik sekitar 2 jam, tinggi gunung Ad Dami 1854m. Untuk orang lain yang lebih muda mungkin tak memerlukan waktu selama itu.

Perjalanan turun kami tempuh sekitar kurang dari 2 jam. Turun lebih mudah daripada naik, walaupun sama melelahkan juga.Guide kami, meskipun sudah berumur paruh baya, tapi masih lincah dan kuat menuruni bukit berbatu itu. Tapak kakinya seperti tak berjejak, ringan melangkah, mungkin karena sudah terbiasa.

Tiba kembali di bawah, Pak Tua, guide kami itu mencari lokasi untuk makan siang. Pak Tua ini sudah menyiapkan bahan makanan di jeepnya. Setelah mendapatkan lokasi yang mantap untuk acara memasak, kami duduk istirahat.

Pak Tua itu sibuk menyiapkan masakan untuk kami. Ini bagian dari cara tour, memasak ala orang Bedouin. Masakan sederhana, hanya tomat dan bawang bombay cincang diberi saos dan garam. Dimasak seperti membuat sambal tomat, hanya yang ini tanpa cabe. Masaknya di kayu bakar ala nomaden.

Bahan makanan lain adalah, roti pitta  (Arabian Bread ) yang dibakar di atas kayu bakaran sisa memasak saos tomat tadi. Ada humus sachetan, ikan tuna kaleng. dan mentimun. Minumnya teh. Makan ala nomaden dan modern menjadi satu, hehehe …

Setelah istirahat makan siang yang terlambat, karena sudah hampir jam 3 sore, kami bergerak lagi. Pak Tua membawa kami melihat sunset, sayangnya langit sangat berawan, Kami memutuskan pergi saja, tak lagi menunggu. Kami dibawa ke batu yang berbentuk jembatan, Um Fruth Rock Bridge.

IMG_0509 (2)Um Fruth Rock Bridge

Sekitar jam 6 sore kami kembali ke tenda tempat kami menginap. Malamnya kami disuguhi makan malam dengan zarb, barbecue ala Bedouin. Zarb ini cara memanggang di dalam tanah selama 3 jam.

Perkakasnya tungku berbentuk tong, berisi kayu bakar. Di atasnya diletakkan alat pemanggang bertingkat 3. Isinya daging, sayuran dan periuk nasi. Hasil panggangnya sangat enak, tidak berminyak dan empuk. Agar tetap hangat, panggangan ini dikubur dalam tanah, dilapisi kain dan ditutup dengan tanah sampai saat akan disantap di malam hari.

Keesokan paginya jam 8.30 kami akan diantar balik ke Wadi Rum Village untuk kembali ke Amman. Sebelumnya masih kami sempatkan bangun pagi melihat matahari terbit di pagi yang dingin. Menikmati sinarnya  jatuh di di bukit batu dan hamparan padang gurun membuat warnanya menjadi lebih indah.

IMG_0330 (2)Menunggu matahari terbit

IMG_0526 (2)Keindahan padang gurun Wadi Rum

Perjalanan yang sungguh menyenangkan, meskipun ada rasa capek dan pegal di badan selama mendaki gunung. Ini merupakan pengalamaan yang tak terlupakan dan tak tergantikan.

Cerita di atas hanyalah sebagian dari jelajah kami mencari yang tersembunyi di belantara padang gurun Wadi Rum. Masih banyak lokasi lain yang tak cukup hanya dikunjungi sekali atau dua kali saja. Mungkin dibutuhkan kunjungan ketiga dengan waktu yang lebih lama lagi. Mungkin lain kali …

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.