Flight Mode

Bandara Srinagar adalah satu bandara yang pernah kusinggahi yang paling ketat security check pointnya. Mulai dari pintu masuk di parkiran bandara pengecekan bagasi sudah dilakukan. Kemudian masuk ke lokasi bangunan bandara pengecekan semakin ketat dan menyeluruh.

Tak hanya pengecekan bagasi yang ketat, termasuk orangnya juga dicek paripurna. Petugas keamanan di mana mana, ga tanggung tanggung pengawasannya langsung oleh tentara lengkap dengan senjata laras panjang.

Sasaran mereka sebenarnya bukan untuk menakut nakuti turis, tapi sebagai bentuk tindakan pencegahan, pengawasan dan perlindungan jika terjadi serangan tiba tiba dari pemberontak. Tapi sebagai turis tentu aku merasa tidak nyaman dengan situasi ini, merasa diintimadasi.

Tapi itulah bagian dari perjalanan ke Kashmir, pemandangan seperti di bandara ini juga ada di sepanjang jalan jalan utama kota Srinagar. Meskipun tugas mereka bukan untuk memata matai turis, tapi rasa was was terkena imbas dari konflik di Kashmir tetaplah ada.

Karena sasaran pemberontak adalah tentara yang berjaga jaga, jadi kalau kita berada dekat dekat tentara itu kan bisa jadi berbahaya, kena sasaran dari pihak yang bertikai. Mengenai apa sumber konfliknya tak perlu kuceritakan karena itu persoalan intern negara India.

Kami hanya turis di sini yang ingin menikmati keindahan Kashmir dengan latar pegunungan Himalaya yang epic itu.

Setelah check in bagasi, kami masuk ke barisan pengecekan barang kabin. Semua isi tas yang berisi kamera dan laptop harus dikeluarkan. Dicek on off baru kemudian bisa lewat masuk ke ruang tunggu.

Tak hanya barang yang dicek, passport dan boarding pass juga harus kita tunjukkan saat badan kita diperiksa petugas.Bukan pengecekkannya yang bikin nervous, tapi petugas di luar ruangan itu yang bikin deg deg an karena pakai seragam tentara. Persis kek yang di film film anti teroris itulah pokoknya. Tapi kalau kita ga bawa barang yang aneh aneh tak perlu takut sebenarnya.

Setelah menunggu berjam jam karena delay, akhirnya kami bisa boarding masuk pesawat. Lega sebentar lagi meninggalkan Kashmir yang bikin menggigil ini sangking dinginnya. Berharap New Delhi tidak sebeku Srinagar.

Suasana riuh suara orang orang yang berbicara memenuhi ruangan pesawat. Ini pesawat lokal, kebanyakan penumpangnya juga orang lokal. Mereka ramai berbicara dalam bahasa lokal, sahut sahutan bersuara kuat. Ini dalam pesawat atau lagi di pasar ya, ramai sekali, pikirku.

Nanti juga akan diam begitu pesawat akan take off pikirku lagi. Mereka tak hanya ramai berbicara, juga sibuk bertelephone sana sini, mungkin mengucapkan selamat tinggal untuk para kerabatnya, tapi kenapa bukan dari tadi ya, atau sms saja biar ga ramai gitu kedengarannya.

Pramugrasi sudah melakukan pengecekan penumpang dan peragaan prosedur keselamatan penumpang. Suara gaduh itu sudah mulai berkurang, meskipun tak diam semuanya masih ada yang asyik bercerita atau cakap cakap.

Pesawat mulai bergerak dari sandaran. Biasanya kalau sudah begini aku sudah tak melakukan aktivitas apa apa lagi selain bernafas. Hape sudah flight mode, artinya hape tak lagi bisa menangkap signal untuk berkomunikasi.

Bicarapun sudah malas, hanya fokus pada doa supaya penerbangan lancar jaya. Meskipun aku sudah bolak balik naik pesawat tetap saja aku suka nervous saat take off dan landing.

Pegangan kuat kuat biar hati tenang, tanganku kadang bisa sampai basah kalau saat begini. Rasanya sangat mendebarkan. Aku selalu mencoba menenangkan diri dengan berdiam diri. Tapi orang orang itu masih ada yang berbicara bahkan sambil ketawa. Duh…aku makin nervous.

Pesawat sudah siap siap take off di landasan ketika kudengar ada suara bunyi hape. Aku pucat, dengar suara hape saat mau take off, gilak kok bisa hapenya ga dimatikan atau di flight mode, pikirku. Semoga yang punya hape tak mengangkat sambungan itu, ini sudah mau take off, kan bahaya, pikirku.

Pesawat take off bersamaan itu kudengar suara, hallo…haloo..dan si yang punya hape enak aja berbicara pada saat take off, berbahasa lokal. Aku hanya terpaku, diam, bengong, takut dan was was. Berharap tak terjadi apa apa selama proses take off. Karena menurut info yang kubaca, signal hape bisa mengganggu navigasi pesawat.

Setelah pengumuman seat belt bisa dibuka, yang artinya posisi pesawat sudah stabil di atas, aku baru bisa benafas lega. Suara suara orang bercakap cakap mulai riuh lagi sampai kami mendarat di Bandara Indira Gandhi, New Delhi. Rupanya orang lokal ini orang yang suka bercakap cakap di manapun dan kapanpun.

Bandara Srinagar bisa saja melakukan pengecekan berlapis lapis dengan pengawasan ketat melekat untuk keamanan dan kenyamanan penumpang. Tapi pengecekan dan pengawasan agar hape tidak berdering saat take off siapa pulak yang mampu melakukannya?

49209673_10213262328101456_7161923876648124416_oJajaran Pegunungan Himalaya, photo kuambil saat terbang menuju Srinagar

Pramugari yang bertugaspun kelihatan seperti cuek saja ketika melihat orang orang dalam pesawat itu yang masih sibuk bertelephone meskipun mereka sedang melakukan pengecekan penumpang.

Atau mungkin pesawat itu sudah dilengkapi dengan alat yang bisa membuat penumpang bisa tetap menerima panggilan telephone meskipun saat take off, keknya aku harus bertanya sama pilotnya !

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.