Dalla Township : Sisi Buruk Parawisata Dengan Menjual Kemiskinan

Selama tinggal di Yangon, beberapa tempat sudah kami jalani di Myanmar. Salah satunya yang paling dekat ke Yangon adalah Dalla Township. Sebuah kota kecil di sebelah Selatan sungai Yangon yang berhadapan dengan kota Yangon.

Untuk menuju Dalla, kami harus naik ferry yang menjadi angkutan umum penduduk lokal dari Dalla ke Yangon dan sebaliknya.

25182395_10210576097147361_5233853631229505749_oArus para urban dari Dalla ke Yangon, padat berdesakan.

Tiketnya cukup murah sebenarnya hanya 200Kyatt. Tapi karena kami bukan orang lokal kami dikenakan tarif orang asing sekitar 2000 Kyatt pulang pergi.

Perjalanan hanya sekitar 10 menit karena hanya menyeberangi sungai Yangon. Sungai Yangon ini merupakan muara sungai menuju Teluk Bengal. Sungai Yangon sangat lebar, arusnya cukup kuat dan merupakan salah satu jalur transportasi penting di Myanmar.

Tiba di pelabuhan Dalla, kami didekati oleh pengayuh becak untuk menawarkan jasanya mengantar kami keliling kota Dalla. Sepertinya si abang tukang becak ini sudah mengikuti kami sejak dari dalam ferry.

Tadinya kami bermaksud hanya berjalan kaki saja, tapi oleh si tukang becak bilang lokasi yang mau kami tuju itu masih jauh. Tapi karena kami diikuti terus akhirnya kami mengalah, tak apalah  naik becak hitung hitung bantu si abang tukang becak juga mendapatkan rejeki. Setelah tawar menawar harga pas kami dibawa keliling oleh abang tukang becak tersebut.

Cuaca saat itu sangat panas sekali. Langit cerah dan udara lembab membuat badan keringatan terus. Tapi berkat abang becak ini, kami bisa jadi hemat energi keliling kota Dalla. Dan ternyata lokasi yang mau kami datangi itu masih jauh.

Kota Dalla hanyalah kota kecil tapi cukup luas juga ternyata, penduduknya juga tak terlalu padat. Kontras sekali dengan kota Yangon padahal letaknya berseberangan. Di sini tampak  lebih kumuh dan kotor. Kota Dalla lebih terlihat seperti perkampungan sebenarnya.

Di sepanjang perjalanan sangat terlihat suasana kemiskinan. Rumah rumah lebih sederhana boleh dikatakan lebih menyerupai gubuk rapuh yang tiangnya hampir jatuh jika tertiup angin.

Dulu kota ini tak semiskin ini, kata abang becaknya tiba tiba. Sepertinya dia bisa membaca pikiran kami yang sedikit berkerut mungkin melihat situasi ini.

25073234_10210576099987432_3855508634696743407_oPerkampung kumuh sekitar Dalla Township

Tadinya kami berharap datang ke sini adalah untuk plesiran, karena menurut info yang kami baca ada Pagoda yang bisa didatangi di sini, dan banyak turis datang berkunjung ke tempat ini.

Tapi, kenapa bisa jadi seperti ini, tanya suamiku. Bukankah di sini katanya adalah tempat turis ?

Betul, dulunya banyak turis datang ke sini, jawab si abang tukang becak itu. Tapi sejak badai Nargis tahun 2008 menghantam kota ini, kota ini seperti tak pernah lagi bangkit dari keterpurukannya.

Walaupun keadaan sudah pulih kembali, tapi perekonomian tak begitu membaik. Turis semakin jarang datang, orang orang jadi memilih bekerja ke Yangon.

Badai Nargis sudah merupakan kutukan bagi kota ini. Hampir 200.000 ribu orang meninggal akibat badai tersebut. Tempat ini sekarang sudah benar benar miskin, si abang tukang becak bercerita.

Kamu fasih berbahasa Inggris, kenapa memilih jadi penarik becak bukan pekerjaan lain ? Tanya suamiku lagi.

Ya, saya belajar bahasa Inggris dari turis yang datang. Saya lebih memilih jadi tukang becak karena lebih menghasilkan uang, kata sia abang tukang becak sambil tersenyum bangga.

Persinggahan pertama kami dibawa ke sebuah Pagoda yang namanya aku lupa. Di dalam Pagoda itu ada sebuah patung seorang Biksu yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Menurut si abang tukang becak ini, Biksu ini orang yang sangat dihormati di perkampungan itu.

25074966_10210576098467394_5850347357407313675_oMake a wish dengan memukul 3 kali lonceng di dalam pagoda, tapi aku lupa meminta apa waktu itu.

Menurutnya, di dalam Pagoda itu mayat Biksu tersebut disemayamkan selama bertahun tahun. Katanya sebelum badai Nargis terjadi ada saksi mata yang melihat mata Biksu itu terbuka, sebagai pertanda akan ada bencana besar terjadi di daerah itu.

Si abang becak itu kemudian membawa kami ke sebuah perkampungan. Dia menyebutnya kampung bambu. Tadinya kami berpikiran ini adalah perkampungan yang dikelilingi pohon bambu dengan rumah unik yang terbuat dari bambu untuk tujuan wisata.

Tapi nyatanya, si abang tukang becak ini membawa kami ke satu lokasi pemukiman yang sangat kumuh. Rumah rumahnya terbuat dari bambu dan atap rumbia, berlantai tanah. Sangat miskin sekali !

Kami melihat anak anak kecil duduk tak berpakaian lengkap, seorang ibu muda kurus yang lagi hamil dan beberapa ekor anjing kurus tertidur di bawah kursi bambu yang sudah reot. Mengenaskan sekali.

Kami bingung, kenapa kami dibawa ke tempat seperti ini ? Bukan karena melihat kekumuhan dan kemiskinan itu kami ingin menghindar. Tapi karena kami ga membawa apa apa untuk mereka.

25075109_10210576095347316_924727616836307237_oPerkampungan nelayan yang nelayan tak kelihatan.

Kalau tahu akan dibawa ke tempat seperti ini, setidaknya bisa dipersiapkan membawa sesuatu. Sementara untuk memberi uang, itu tak mungkin kami lakukan, karena uang yang kami bawa terbatas dan tujuan kami ke sini bukan untuk menyumbang.

Satu perkampungan yang lain yang kami lewati adalah perkampungan nelayan. Tapi kami tak melihat banyak nelayan di sana. Menurut si abang tukang becak kami datang kesiangan, jadi para nelayan tak lagi terlihat di sana.

Kami harus datang lebih pagi untuk melihat nelayan yang pulang menangkap ikan. Siangnya para nelayan sudah alih profesi jadi tukang ojek perahu, begitu penjelasan si abang tukang becak.

25188792_10210576093667274_4500892663629724010_oOjek Perahu, salah satu angkutan utama antar perkampungan di sungai Yangon

Setelah dibawa berkeliling dan kami kecewa sebenarnya karena jauh dari perkiraan yang kami dapatkan. Tapi ya sudahlah, namanya juga pengalaman. Tapi ada yang menarik yang aku tak bisa lupa dari si abang tukang becak itu, ketika kami dibawanya ke pasar tradisional.

Aku bermaksud untuk belanja ikan, kebetulan aku melihat ada ikan bawal sungai yang kelihatan masih segar. Oleh si abang tukang becak membantu aku menawar harga ikan itu. Aku dapat harga yang jauh lebih murah dari harga biasa di Yangon.

Kami juga dibawa ke tempat pembuatan kulit samosa dan beberapa tempat lain. Meskipun tak seperti yang kami harapkan, banyak pelajaran berharga yang kami dapatkan dari melihat potret kehidupan orang lokal ini dari berbagai sisi kehidupan yang mungkin hanya bisa kami lihat di sini.

25188873_10210576099827428_91283717292624574_o (1)Tempat pembuatan kulit samosa

Sorenya kami kembali ke pelabuhan. Si abang tukang becak tadi didatangi oleh temannya yang lain. Entah apa yang dibicarakan, tapi sepertinya temannya itu meminta uang.

Kami meninggalkan mereka masih berdebat, setelah kami membayar ongkos becak seharga yang sudah kami sepakati, 15.000 Kyatt.

Lama setelah kejadian ini, kami baru mengetahui dari cerita orang orang bahwa di Dalla itu ada modus penipuan yang dilakukan beberapa oknum tukang becak yang menawarkan jasanya kepada para turis untuk berkeliling.

Mereka akan mengawali cerita tentang kemiskinan di daerah itu untuk menarik simpati dan empati. bahkan dengan menyuruh anak kecil mengikuti para turis itu.

Para turis akan dibawa ke tempat tempat miskin dan kumuh, berharap para turis itu akan iba, kemudian menyumbangkan uangnya untuk para penduduk lokal di perkampungan kumuh dan miskin itu.

Kalau soal ajakan menyumbang saja mungkin tak akan jadi masalah, yang jadi masalah kemudian mereka juga meminta jatah dari orang orang yang telah disumbang itu.

Ya, mereka menjadi semacam agen yang minta komisi karena telah berhasil memanipulasi orang untuk menyumbang. Mereka mendapat keuntungan dari hasil menjual kemiskinan tersebut.

Bagi mereka mungkin itu bukan satu kesalahan, karena yang mereka pikirkan bagaimana untuk bertahan hidup meskipun dengan cara menjual kemiskinan.

Tapi untungnya si abang tukang becak itu tak pernah memaksa kami untuk ikut menyumbang seperti cerita orang orang itu.

25182106_10210576096747351_4406394839438485732_oSi abang tukang becak ketika diajak berphoto tak keberatan langsung pasang wajah tampannya.

Bagaimana dengan di negara kita, adakah orang yang menjadi agen penjual kemiskinan juga ? Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.