Asyiknya Liburan dan Syahdunya Natalan di Aceh

Mumpung bulan Desember, aku mau berbagi cerita tentang seputaran perayaan Natal yang pernah kuikuti. Sharing is caring iye kan …
Suamiku sangat sering bercerita soal Aceh kepadaku. Pasalnya doi dulu tinggal dan kerja di Aceh selama kurleb 6 tahun. Pada masa itu Banda Aceh sedang recovery dari bencana besar Tsunami.
Suamiku bekerja sebagai salah satu staff nasional pada salah satu NGO yang berkantor di Banda Aceh. Sangking banyaknya pekerja asing masuk ke Aceh pada saat itu, suamiku juga banyak dapat kenalan di sana. Mereka datang dari berbagai daerah Indonesia dan mancanegara.
Mendapat banyak teman di sana membuat doi betah dengan pekerjaannya itu dan punya kesempatan menjelajahi sekitaran Aceh.
Sangking seringnya suamiku cerita soal Aceh, aku penisirin dong ! Seperti apa sih sehingga suamiku sampai seantusias itu kalau cerita soal Aceh. Baginya Aceh sudah menjadi rumah kedua setelah rumah di Siantar.
Yang kudengar tentang Aceh dari berita kebanyakan hal hal yang ga enak didengar. tapi suamiku justru memberi cerita yang berbeda.
Banyak kenangan dan pengalaman hidup yang mengubahku di sini, katanya. Sedih meninggalkan Aceh tapi karena hidup harus berjalan terus, aku terpaksa pergi juga dari Aceh. Tapi adakalanya rindu untuk melihat Aceh kembali …
Ya, sudah kataku. Kita liburan saja ke Aceh, aku juga pengen lihat Aceh, sekalian kita Natalan saja di sana. Masa tetanggaan sama Sumut tapi ga pernah datang ke sana ?
Kami lalu menyusun rencana, liburan dan Natalan di Aceh. Kami tiba di Banda Aceh tanggal 22 Desember, pagi hari. Kami terbang dari Kualalumpur karena saat itu kami tinggal di Yangon.
Kami dijemput oleh seorang sahabat suamiku, pemuda setempat yang tahu lika liku Banda Aceh. Keliling seharian ke Musium Tsunami, Kapal Terapung, sorenya kami lanjut naik ferry ke Sabang. Banda Aceh udaranya sangat panas, bikin gerah.
25587024_10210653158793854_8702881993835951912_o
Museum Tsunami dibangun untuk mengenang bencana alam Tsunami di Samudra Hindia yang meluluhlantakan Banda Aceh tahun 2004. Museum ini dirancang oleh Pak Ridwan Kamil Gubernur Jabar sekarang.
25791154_10210653157033810_2644035695914888067_o
Di dalam Ruang Doa nama nama korban dituliskan di dinding tembok Ruang Doa Museum Tsunami. Diperkirakan korban mencapai 170.000 orang.
25734366_10210653164513997_2971197764726061961_o
Kapal Apung, yaitu kapal yang terangkat ombak dari laut terhempas ke daratan milik PLTD. Di dalamnya kini dibuat museum sejarah Tsunami.
25734168_10210653165634025_1187027508510409319_o
Salah satu sisa reruntuhan rumah bekas sapuan air laut akibat Tsunami
Pantai yang terkenal di Banda Aceh adalah Pantai Uleelheue. Inilah salah satu pantai yang dulu diterjang Tsunami. Pantai ditembok keliling. Ada tempat untuk duduk istirahat. Tapi karena siang hari sangat panas di sini, kami hanya melintas ambil photo saja.
Pelabuhan ferry menuju Sabang tak jauh dari pantai ini, tinggal jalan kaki saja. Pelabuhannya juga sudah dibangun bagus dan rapi. Pelabuhan ini menjadi pintu masuk para peserta Sabang Sail yang diadakan setahun sebelumnya.
25542566_10210653157313817_8279715551318589866_o
Pantai Ulee Lheue, sekarang dibuat pemecah ombak dan ditembok tinggi untuk perlindungan jika terjadi gelombang Tsunami.
Sabang sudah lama terkenal dengan keindahan lautnya. Suamiku bilang doi sering snorkling di sana.  Sabang lebih terbuka terhadap orang luar karena merupakan tempat tujuan wisata.
25626186_10210669364758993_5942759603943337527_o
Kapal penduduk lokal dalam rangka memeriahkan Sabang Sail.
Kapal ferrynya cukup bagus. Banyak juga wisatawan yang datang ke Sabang. Dari mancanegarapun banyak, terutama dari Malaysia. Kami ambil kelas VIP, karena hanya itu yang tersisa, harga tiket VIP Rp.100.000 saat itu. Setelah naik ferry sekitar satu jam kami tiba di pelabuhan Sabang.
Dari pelabuhan kami naik becak bermotor menuju penginapan, kami tawar seharga Rp. 40.000. Oleh abang becaknya menawarkan kami untuk keliling naik becak seputaran Sabang. Kami memilih rental sepedamotor saja. Kebetulan si abang becaknya punya, jadilah kami pinjam sekitar Rp. 150.000 selama dua hari.
26023883_10210669364558988_7260971103059293071_o
Pemandangan dari pebukitan tinggi di Sabang menuju KM NOL
Keliling Sabang naik sepedamotor lebih asyik, bisa dua duan tanpa harus mikirin abang becak jadi orang ketiga. Hahaha…
Bulan Desember angin lautnya sangat kencang, kata penjaga hotel bagusnya ke Sabang itu sekitar bulan Maret, langit cerah, bisa snorkling sekitaran pantai karena ombak ga terlalu besar.
26023868_10210669365199004_8707574626860744691_o
Pantai di lokasi penginapan kami, biasanya bisa untuk snorkling tapi karena angin bulan Desember, ombak menjadi lebih besar.
Karena ombak dan angin kencang, kami mencari tempat snorkling di tempat lain. Namanya Iboih. Lautnya memang cantik, karena letaknya agak di teluk, ombaknya tak terlalu kencang.
Hanya saja terumbu karangnya sudah banyak yang rusak, mungkin sangking banyaknya orang datang ke lokasi ini. Ikan yang bisa dilihat masih banyak dan cantik cantik.
26240481_10210762666371475_8869002842705077390_o
Snorkling di Iboih, ikannya masih lumayan banyak meskipun terumbu karangnya sudah banyak yang rusak.
26232782_10210762665051442_8280397438309413411_o
Naik boat menuju Iboih.
Menurut suamiku ini semua sudah jauh berkurang keindahannya dibandingkan 10 tahun yang lalu. Doi sering ke sini. Inilah salah satunya yang membuat doi betah di Aceh, menepi ke Sabang bersama ikan ikan laut. Kadang mereka pergi memancing dengan boat ke tengah laut samudra Hindia.
Besoknya kami jalan lagi, ke KM Nol. Liburan menjadi lebih asyik karena banyak tempat yang bisa kami jangkau dengan adanya sepedamotor pinjaman. Sembari jalan menuju KM Nol kami lihat lihat sekitaran kota, apakah ada gereja. Niatnya kan mau malam Natal di Aceh, atau tepatnya di Sabang.
25734086_10210669366519037_1275910142637174462_o
Tugu KM NOL yang lagi dipugar saat itu, sebagai batas ujung kepulauan Indonesia di Pulau Weh, Sabang.
25734178_10210669365519012_2017098185933997680_o
Batas pandang paling ujung ke Samudra Hindia di Pulau Weh.
Akhirnya kami ketemu satu gereja Katholik yang mengadakan ibadah malam Natal sekitar jam 7 malam. Ada beberapa gereja  yang kami selama perjalanan. Hari itu kami sengaja kelayapannya ga terlalu lama, karena persiapan untuk kebaktian. Jangan sampai kelelahan akhirnya malah ketiduran.
Jam 6 sore kami sudah keluar dari hotel menuju gereja. Sekalian makan malam dulu sebelum mulai kebaktian. Cari tempat makan kok pada tutup semuah ? Rupanya jelang Magrib itu,  warung, toko, kios atau tempat usaha lainnya pada tutup.
Gagal mencari tempat makan, kami bermaksud langsung saja ke gereja selesai kebaktian baru makan malam, paling juga kebaktiannya sejaman, gitu pikiran kami. E tapi tiba tiba sepeda motor mogok. Ya elah…habis bensin pulak ! Mana warung pada tutup ..
Akhirnya kami mendorong sepedamotor sambil cari cari tukang bensin jalanan. Untung ada seorang bapak menghampiri. Tunggu saja di sini dek, ntar warung bensin yang itu mau buka, habis Magrib.
Tak lama kemudian yang punya warung benar buka, setelah kami isi bensin langsung tancap gas ke gereja. Belum terlambat, tapi kok sunyi, tak ada orang, hanya kami berdua.
Pintu gereja sudah terbuka pertanda kebaktian akan ada malam ini. Tak lama kemudian seorang ibu datang, darinya kami tahu kebaktian mulai jam 8. Duh …sejam lagi. Mana lapar lagi, mau pergi ga mungkin juga. Warung makannya masih pada tutup.
Satu persatu jemaat datang, pas jam 8 acara kebaktian mulai. Tak banyak orang datang, paling sekitaran 30 orang, termasuk anak anak dan pelayan kebaktian. Di luar hujan  turun dengan derasnya.
Berbeda dengan di kampung kami sana, kalau malam Natal itu, gereja pasti penuh, sampai pakai tenda tambahan. Datang harus cepat supaya kebagian tempat duduk.
Kami menikmati malam Natal di Aceh, kebaktian bersama orang lokal. Meskipun sedikit tapi sukacita Natal sangat berasa, kebaktian Natal berlangsung begitu syahdunya.
Sesama jemaat sepertinya sudah sangat kenal satu sama lain, karena jumlahnya tak banyak. Sebagian mungkin pulang kampung halaman. Jemaat juga merangkap sebagai pelayan kebaktian Natal bergantian.
Selesai kebaktian Natal, kami langsung keluar gereja, di luar hujan masih gerimis. Kami terpaksa terobos saja, perut sudah lapar sekali. Tak tertahankan lagi !
Kami mampir di sebuah warung makan yang rame, biasanya warung makan kalau rame pasti enak iye kan… Warung makan ini menyediakan sate gurita dan teh hijau. Penisirin dong. Langsung pesan. Tapi harus ngantri karena orang sangat ramai.
Rupanya kebiasaan orang di sana itu keluar makan malam sekitaran jam 8 malam. Di mana warung kembali buka karena tutup saat Magrib tiba. Tak heran jika warung makan dan kedai kopi rame pengunjung sekitaran malam hari.
25488333_10210645562443950_1111798589721711922_o
Lupakan sate guritanya ga sempat photo, nikmati sarapan pagi ala warkop Banda Aceh.
Sate gurita datang, teh hijau sudah duluan datang, sudah diminum dan rasanya enak, ada wangi pandannya gitu. Sekarang makan sate gurita, segigit dua gigit, kok satenya kayak karet, kenyal kenyal gitu ? Tapi karena lapar hajar saja bleh…hahaha
Besok harinya kami kembali ke Banda Aceh, naik ferry lagi. Tiba di Banda Aceh kami menyempatkan diri singgah ke Mesjid Raya yang terkenal itu, Mesjid Baiturrahman. Kami tidak masuk, hanya ambil photo dari luar saja.
26173750_10210706857696293_21895331965031830_o
Mesjid Raya Baiturrahman yang cantik dan megah.
Dari sana kami melaju ke tempat nongkrong  kedai kopi Cek Yuke yang terkenal itu sambil nunggu sore tiba.. Kami pulang ke Medan naik bus malam. Perjalanan menuju Medan kami tempuh sekitar 12 jam.
sabang
Duduk manisz manjah di salah satu pantai cantik Sabang.
Kesan yang kudapatkan selama melakukan perjalanan ke Aceh ini walaupun singkat adalah :
Aceh itu alamnya indah dan masih alami. Kota dan kampungnya bersih. Orangnya ramah. Kehidupan di sana kelihatan masih sederhana, masih original. Aceh tak seburuk yang diberitakan di media. Menurutku sih layak jika kita mau berkunjung ke provinsi paling ujung Indonesia ini.
Kesan lainnya sengaja kusimpan dalam hati saja, biarlah itu menjadi pengalamanku sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.