Sehari Menyusuri Jejak Situs Ziarah Umat Kristiani di Jordania

Jumat minggu lalu saya dan suami berkesempatan pergi keluar kota Amman untuk menyusuri situs ziarah umat Kristiani yang ada di Jordania. Kami menyewa sebuah mobil sedan seharga 80 Jod untuk perjalanan seharian dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Harga sudah termasuk biaya bensin dan supir. Kami memutuskan untuk pergi jalan sendiri tanpa ikut tour travel karena ingin kebebasan waktu.

Tepat jam 8 pagi kami dijemput oleh supir, seorang pemuda Palestina yang sudah menjadi warga negara Jordania. Menurut pengakuannya dia adalah seorang sarjana dan sehari harinya bekerja sebagai accountant pada sebuah perusahaan. Libur Jumat ini dimanfaatkan untuk kerja sampingan sebagai supir. Di Jordania libur akhir minggu adalah setiap Jumat dan Sabtu.

Kota Amman terlihat masih sepi di pagi ketika kami memulai perjalanan. Langit terlihat cerah, udara mulai terasa dingin karena sudah memasuki musim gugur. Sepanjang jalan keluar kota terlihat pohon cemara dan ladang zaitun. Ini perjalanan pertama saya keluar kota Amman. Rasa menemukan petualangan dan dunia baru membuncah dalam dada. Senang rasanya bisa berplesiran keluar kota setelah seharian hanya bisa tinggal di rumah.

St George Church Madaba

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah kota Madaba, sekitar 20 menit dari Amman atau sekitar 30 km. Madaba yang dulunya dikenal sebagai  Moab dalam Kitab Perjanjian Lama merupakan sebuah kerajaan kuno di Jordania. Dari sinilah Musa naik menuju Gunung Nebo dan melihat tanah perjanjian yang disebut sebagai Tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan kepada bangsa Israel. Diperkirakan juga Musa dikuburkan di tanah Moab ini meskipun sampai sekarang tak ditemukan jejak kuburan Musa.

Perjalanan menuju Mount Nebo

Di sini kami mengunjungi sebuah gereja yang ada lukisan peta mosaic di lantainya, nama gerejanya St George Church and Mosaic Map. Saat kami tiba di lokasi sedang berlangsung kebaktian. Gereja ini merupakan gereja  Katholik Ortodoks Yunani. Nama St George diberikan untuk mengenang seorang tentara Byzantin yang dipenggal karena menolak mengganti agamanya setelah kekalahan Byzantin.

Pintu Masuk Lokasi Puncak Gunung Nebo

Setelah mengunjungi situs ziarah yang pertama ini, kami melanjutkan ke situs ziarah berikutnya yaitu Gunung Nebo atau Mount Nebo. Dengan berkendara sekitar 10 menit dari Madaba menuju pebukitan padang gurun yang tandus sampailah kami di puncak pebukitan yang disebut dengan Mount Nebo.

Untuk masuk ke lokasi puncak gunung Nebo dikenakan tiket seharga 2 Jod. Dari pintu masuk tak terlalu jauh lagi naik ke atas ke lokasi bangunan gereja dan tempat Musa menatap ke lembah hijau yang disebut sebagai tanah perjanjian atau tanah Kanaan Di lokasi ini ada simbol tongkat  yang dililit oleh ular tembaga.

Puncak Gunung Nebo

Di puncak gunung ini juga ditemukan reruntuhan gereja kuno yang dibangun abad ke 4 untuk memperingati kematian Musa. Dari sisa reruntuhan gereja ini banyak ditemukan lantai mosaic. Pada tahun 2000 Sri Paus datang ke lokasi ini menanam sebuah pohon zaitun sebagai tanda perdamaian. Gunung Nebo merupakan tempat ziarah umat Kristiani yang banyak dikunjungi selain tempat Yesus dibaptis, yaitu sungai Jordan. Kami menghabiskan waktu sekitar satu jam di Gunug Nebo.

Lambang Tongkat dililit Ulara Tembaga

Perlu diperhatikan jika berplesiran atau ziarah ke sekitar Jordan, baiknya bawalah perbekalan makanan yang cukup karena sangat sulit mencari tempat makan di sini. Kecuali jika ikut paket tour travel yang sudah termasuk paket makan siang di dalamnya ga jadi masalah. Membawa bekal makanan dan minuman akan lebih irit biaya, mengingat biaya perjalanan  tergolong cukup mahal.

Perjalanan selanjutnya ke lokasi Yesus dibaptis oleh Yohannes Pembaptis, yaitu sungai Jordan yang berada di sisi timur, disebut juga Baptism Site “Bethany Beyond the Jordan ( Al- Maghtas ). Dari atas Gunung Nebo kami turun berkendara sekitara 15 menit menuju lembah Jordan yang hijau melalui bukit batu yang gersang dan panas.

Konon kata supir yang membawa kami itu, di lokasi antara Gunung Nebo dan lembah Jordan ini tak pernah datang hujan. Kelihatan memang sangat tandus sekali. Siang menjadi sangat panas sekali bahkan di musim dinginpun masih terasa panas. Di saat malam akan terasa dingin sekali.

Mobil Pinjaman

 Mendekati lembah Jordam banyak terlihat lahan lahan pertanian yang subur. Mereka bertani secara semi modern. Air hujan mungkin tak turun berbulan bulan dan mereka mengalirkan air dari sungai Jordan untuk menyirami tanaman pertanian mereka.

Di sepanjang jalan terlihat ada ladang pisang dan tanaman sayur lainnya. Juga para pedagang hasil bumi yang menggelar dagangan di pinggir jalan menunggu diangkut pembeli ke kota. Para kawanan domba dan penggembala yang hidup berpindah pindah. Sepanjang jalan ada Selang selang besar yang mengairi lahan lahan pertanian. Tanah yang kelihatan gersang itu ternyata bisa jadi subur karena adanya aliran sungai Jordan.

Jordan sebagai nama salah satu negara yang ada di timur tengah ini mungkin tak terlalu banyak dikenal oleh kaum Kristiani di Indonesia. Tapi ketika disebutkan sungai Jordan sudah pasti kaum Kristiani tahu betul nama tempat itu karena di sanalah pertama kali Yesus dibaptis oleh Yohannes Pembaptis. Selain itu juga melalui sungai Jordan ini juga bangsa Israel menyeberang masuk ke Tanah Kanaan.

Sungai Jordan ini menjadi perbatasan antara Jordania dan Israel (Palestina ). Aliran sungai Jordan ini sendiri berasal dari sungai yang berada di hulu Israel mengalir ke Danau Galilea dan ke Laut Mati. Aliran sungai Jordan datang dari ke tempat paling tinggi terus mengalir ke dataran paling bawah yang bermuara di Laut Mati yang berada 455 meter di bawah permukaan laut.

Tempat pembaptisan Yesus itu sendiri pernah menjadi perdebatan antara Jordania dan Israel dalam hal penetapan di mana sebenarnya Yesus dibaptis oleh Yohannes Pembaptis. Klaim dari Israel menyatakan bahwa Yesus dibaptis sisi barat sungai Jordan yaitu di dekat Danau Galilea yang disebut Yardenit. Tempat ini menjadi favorit umat Kristiani untuk pembaptisan karena airnya lebih jernih. Tapi oleh Unesco menetapkan bahwa Yesus dibaptis di sebelah sisi timur sungai Jordan, yaitu di Betani atau disebut juga Betabara dekat Jericho.

Baptism Site – Bethany Beyond the Jordan River – Al-Maghtas yang lama di mana airnya sudah kering dan tak digunakan lagi sebagai tempat pembaptisan

“Maka datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea ke sungai Jordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanespun menuruti-Nya.”

Lokasi tempat pembaptisan yang baru di mana air sungai Jordan masih mengalir

Dari penglihatan saya di lokasi pembaptisan ada satu tempat yang lama yang tak lagi digunakan sebagai tempat pembatisan karena airnya yang sudah kering. Ada satu lokasi baru yang dibangun tempat pembatisan di mana air sungainya masih banyak. Tapi air sungai Jordan ini terlihat keruh, diperkirakan air ini sudah terkontaminasi dengan limbah lingkungan. Meskipun demikian banyak orang datang berbondong bondong untuk dibaptis di sini. Saya hanya menyentuh airnya dan merendam kaki sebentar saja. Di lokasi ini juga ada dibangu sebuah gereja Ortodoks Yunani St John Baptist.

St John Baptist

Untuk bisa masuk lokasi pembatisan ini dikenakan biaya tiket sebesar 12 Jod per orang. Harga ini termasuk bus masuk ke dalam lokasi berjarak sekitar 2 km dan tour guide. Tidak diijinkan masuk lokasi tanpa rombongan dengan tour guide. Perjalanan di dalam lokasi sekitar 1 jam, berjalan di antara pohon cemara yang tumbuh subur di atas tanah berdebu yang gersang. Sebagian jalan pintas sudah dilengkapi koridor beratap suapa pejalan kaki tak kepanasan, sebagian lagi masih terbuka tanpa penutup. Jalan selama satu jam cukup membakar kalori. Sebaiknya bawalah sunblock, penutup kepala dan air minum yang cukup.

Jalan menuju lokasi pembaptisan

Setelah selesai mengunjungi tempat ziarah dilokasi ini, kami melanjutkan perjalanan menuju Laut Mati, tak jauh dari lokasi ini. Kami tiba di  lokasi resort Laut Mati sekitar jam 3 sore, matahari terasa sangat panas membakar kulit. Di sini bukanlah tempat ziarah, tapi tempat kita bisa berjemur di tepi laut atau mandi atau mengapung di sana.

Laut Mati ini merupakan muara sungai Jordan. Disebut Laut Mati atau Dead Sea karena tidak ada kehidupan di dalam airnya. Airnya mengandung kadar garam 32% membuat tak ada binatang atau mahluk hidup yang bertahan tinggal di dalamnya. Air Laut Mati konon bisa untuk mempercantik kulit, memperlancar peredaran darah dan untuk kesehatan. Tak hanya itu lumpurnya juga digunakan sebagai bahan dasar untuk kosmetika, termasuk garam yang sudah mengeras untuk sabun mandi.

Di duga juga raja Salomo, Cleopatra dan Herodes Agung datang ke Laut Mati untuk mendapatkan manfaat dari air garamnya itu. Nama Laut Mati sendiri ada tercatat di dalam Alkitab Perjanjian Lama. Konon Laut Mati tercipta hampir 3 juta tahun lalu. Permukaannya berada sekitar 400 meter di bawah permukaan laut. Airnya mengalir dari hulu sungai Jordan dan tak ada jalan keluarnya lagi.

Sepanjang jalan menuju Laut Mati banyak dibangun resort mewah dan mahal. Untuk bisa melihat Laut Mati ini ada beberapa pilihan, masuk ke resort atau pergi ke pantai bebas. Bedanya jika di resort kita bayar mahal tapi lokasi mandi dan mandinya bersih dan ada pantai urukannya. Tempat ganti baju dan mandi air tawar juga disediakan termasuk kolam renang. Di lokasi pantai ada penjaganya.

Di pantai yang bersih dan landai pengunjung bisa menikmati mandi lumpur sepuasnya kemudian membasuhnya di air laut asin dengan mengapung tanpa berenang. Tiket masuk pantai yang kami kunjungi 20 Jod per orang.

Sementara di pantai bebas biaya masuk gratis, tapi tidak ada pantai untuk bisa melakukan aktivitas. Kalau hanya sekedar mau ambil photo bisa datang ke pantai bebas ini. Tapi sayang kan, jauh jauh hanya untuk photo tidak menikmati bagaimana rasa mengapung di air asin dan mandi lumpurnya.

Berkunjung ke Laut Mati merupakan akhir dari perjalanan kami. Selama dua jam kami menikmati pemandangan laut dan suasana mandi lumpur di air asin. Pengalaman yang tak terlupakan dan layak dicoba minimal sekali dalam seumur hidup, supaya tak hanya mendengar cerita tentang Laut Mati tapi datang sendiri membuktikan dan menikmati mengapung di air asinnya.

Selesai menikmati mengapung di air Laut Mati, kami segera membilas tubuh dari sisa air garam yang melekat, jika dibiarkan mengering akan membuat kulit terasa gatal. Setelah selesai menikmati suasana Laut mati ini, sekitar jam 5 kami beranjak meninggalkan lokasi menuju Amman. Sekitar 30 menit perjalanan kemudian kami tiba di rumah.

Rasa lelah seharian menyusuri situs ziarah dan nama nama tempat yang ada tertulis di Alkitab terbayarkan dengan pengalaman yang menakjubkan yang membawa pikiran seolah olah berada pada zaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bahwa tempat tempat yang tertulis di Alkitab itu benar adanya. Syukur pada Tuhan Pencipta Alam Semesta atas kesempatan kepada kami bisa berkunjung ke beberapa tempat tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.