Angkor Kota Candi

Ini cerita perjalanan kami bulan Mei tahun 2019 menuju Cambodia, dengan dua tujuan : Siem Reap dan Phnom Penh. Perjalanan kami dari Yangon menuju Siem Reap melewati Bangkok terlebih dahulu, karena tak ada penerbangan langsung. Dari Bangkok bisa juga naik bus menuju Siem Reap melewati perbatasan. Tapi untuk mempersingkat waktu kami pilih naik pesawat saja.

Tiba di bandara, pose dulu sebelum ke imigrasi….

Tiba di Siem Reap sekitar jam 14.30 kami langsung dijemput pihak hotel setelah sebelumnya janjian dulu. Kami dijemput dengan tuktuk. Jarak antara bandara dengan Siem Reap kota sekitar 7km. Suasana di sekitar perjalanan terlihat dataran yang rata bertanah tandus dan kering. Udara juga terasa begitu panas dan lembab. Debu yang beterbangan membuat keringat di badan menjadi terasa lengket. Gerah benar ini tempat.

Wellcome drink pelepas dahaga…jus guava dan keripik talas

Kami disambut dengan welcome drink oleh pihak hotel dengan senyum yang ramah. Setelah check in, kami istirahat sebentar. Sorenya kami jalan kaki menuju Old Market, yaitu tempat pusat keramaian kota. Di sini ada tempat namanya Pub Street, tempat berkumpulnya pub, resto, bar dan café. Draft beer hanya seharga 0.5$ pergelas.

Ramainya Pub Street di waktu malam
Nongkrong di Pub Street

Kami mampir untuk makan malam. Sepiring vegetarian spring roll menjadi menu favorit kami, juga mie goreng ala Khmer. Spring roll nya mirip ala Vietnam yang ada di Old quarter Hanoi. Pasar malam ini sangat ramai terlebih di saat malam minggu tiba.

Vegetarian spring roll, enak maknyos

Selain itu juga ada pasar souvenir yang menjual berbagai macam souvenir dan kerajinan tangan untuk para turis. Saya beli satu tempat gitar yang terbuat dari bahan recycle kertas semen.

Barang barang souvenirnya mirip dengan souvenir yang ada di Thailand. Bahasa, aksen dan tulisannya juga mirip dengan Thailand. Konon Siem Reap dulunya memang masih daerah kekuasaan Thailand. Tapi orang orangya saya lihat malah mirip orang Jawa dan Melayu. Hmmm…mungkin dulunya ada hubungan kekerabatan yang dekat.

Untuk pembayaran mereka terima dollar dan mata uang lokal, Riel. $1 setara 4.000 Riel. Jadi, kalau ke Cambodia tak perlu repot repot tukar Dollar ke Riel. Hanya saja sedikit akan merepotkan karena mereka mencampur tukaran Dollar dan Riel saat memberi kembali. Ga tahu kenapa mereka menggunakan system dua mata uang ini.

Besoknya, kami ambil paket sewa tuktuk seharga $20 menuju Angkor Archeological Park. Di sinilah lokasi kota tua Angkor berada. Menurut cerita Kota Angkor ditinggal karena terjadi kekeringan yang cukup lama di daerah tersebut. Kota ini disebut juga dengan Kota Candi.

Naik tuktuk, mirip kereta kuda ditarik pakai sepedamotor

Jarak tempuh dari hotel kami tinggal sekitar 15 menit perjalanan naik tuktuk ke tempat pembelian tiket. Kami berangkat di subuh hari karena niatnya mau lihat sunrise terbit di Angkor Wat. Kami tiba di lokasi pembelian tiket sekitar jam 5 pagi. Harga tiket $37 untuk one day pass per orang.

Tiket masuk, dilengkapi dengan passphoto yang diambil di tempat

Kemudian kami melanjutkan perjalanan masuk ke lokasi candi yaitu sekitar 30 menit. Setelah melalui cek point, kami parkir di sekitar pintu masuk Angkor Wat, inilah candi pertama yang kami kunjungi. Melewati jembatan di atas air sekitar 100m, sampailah kami di pintu gerbang utama. Sudah banyak ternyata orang di pelataran halaman candi dekat kolam menunggu matahari terbit.

Sunrise di Angkor Wat

Kami beruntung, langit sangat cerah, sehingga semburat jingga saat terbitnya matahari sangat indah terlihat. Meskipun mataharinya sendiri tak bisa kami lihat warna bulat merahnya. Matahari terlihat sudah agak terang, berpendar kekuningan ketika sinarnya merebak dari balik candi. Bersyukur bisa menikmati keindahan Angkor Wat di pagi hari yang cerah ini.

Indahnya Angkor Wat

Tepat jam enam pagi, batas penutup jalan menuju bangunan utama candi dibuka. Kami masuk perlahan menaiki tangga yang cukup terjal. Bentuk bagian depang Angkor Wat ini mirip dengan candi Prambanan yang ada di Indonesia. Setelah menjalani ke dalam terlihat ada ruangan yang bisa dijalani keliling.

Salah satu lokasi photo yang paling ikonik di Angkor Wat

Tangga menuju pelataran candi yang lebih tinggi tak lagi dibuka untuk umum. Padahal katanya melihat dari puncak tertinggi itu sangat indah.Saya sangat takjub dengan peninggalan bersejarah ini, tak heran jika Angkor Wat menjadi salah satu tujuan wisata yang paling popular dan wajib untuk dikunjungi. Ankor Wat warisan budaya dunia yang dilindungi oleh Unesco.

Angkor Wat dari sisi Selatan
Bikku di dalam Wat Angkor

Dari Angkor Wat kami melanjutkan perjalanan ke Bayon Temple. Sebelumnya kami istirahat dulu di warung depan Angkor Wat menikmati sarapan pagi yang disediakan oleh pihak hotel untuk kami bawa. Kami pesan teh manis panas dan kopi hitam pahit, seharga $1 pergelas.

Di pintu masuk menuju Bayon Temple terlihat ada gapura batu yang tersusun membentuk empat wajah. Konon Bayon Temple dibangun setelah Angkor Wat. Candi candi ini dibangun pada masa kerajaan Hindu di Cambodia, kemudian berubah menjadi kerajaan Buddha. Jadi, bisa kita lihat dari ornament atau pahatan patung di dinding candi, juga bentuk candinya sendiri yang menyerupai kuil Hindu.

Pintu masuk Bayon Temple, ada gapura empat wajah
Bayon Temple
Wajah paling Ikonik di Cambodia

Selanjutnya kami Tha Prohm. Ini candi yang paling menarik menurut saya. Lokasinya masih di tengah hutan, meskipun sudah ada jalan masuk yang rata, tapi kiri kanannya masih banyak pohon pohon tua ratusan tahun. Candi candinya sendiri sudah banyak yang runtuh dan ditumbuhi pohon pohon besar dengan akar yang melilit bangunan candi. Terlihat alami sekali dan sangat ikonik. Khas Cambodia.

Tha Prohm dililit pohon ratusan tahun
Penunggu pohon…hihihi

Dari akar pohon yang sangat besar itu, bisa ditaksir usianya yang sudah ratusan tahun. Pohon pohon yang menjulang tinggi dibiarkan tumbuh di atas candi.Pohon pohon ini tumbuh liar karena Angkor sendiri lama ditinggalkan sebelum dipugar kembali seperti saat ini. Untuk sejarahnya yang lebih detail mungkin bias dibaca di Wikipedia.

Thomb Rider wanna be

Lelah naik turun candi dengan cuaca yang sangat panas, kami istirahat sambil minum air kelapa muda, segeeerrr… ! Setelah melanjutkan perjalanan pulang sambil makan manga yang sangat manis pengganjal perut, maklum sudah jam 1 siang. Kami memutuskan untuk makan siang di luar lokasi, karena di dalam sangat terbatas pilihan rumah makannya. Hanya ada tempat untuk jajan cemilan saja.

Pintu masuk Tha Phrom, lokasi ini terasa aura mistisnya

Kami minta diturunkan di area Pub Street, lokasi di mana pusat turis dan berbagai macam restaurant tersedia. Kami pilih Khmer Kitchen, pengen merasakan masakan local. Menunya Chicken curry, spring roll, nasi dan segelas jus markissa.

Chicken curry ala Khmer Kitchen …

Setelah kenyang, kami pulang naik tuktuk menuju hotel seharga $2. Kaki sudah terlalu untuk melangkah, istirahat di hotel sambal meluruskan badan menjadi angan yang paling nikmat. Demikian perjalanan kami mengelilingi Angkor, besoknya lanjut naik minivan ke Phnom Penh. Akan saya tulis secara terpisah …

Tips dan trik saaat keliling Angkor, karena butuh jalan yang banyak dan naik turun candi, pakailah sepatu atau sendal yang paling nyaman di kaki. Jangan bawa beban terlalu banyak biar ga kecapean nenteng barang. Pakai baju tertutup sampai lengan, dan rok atau celana di bawah dengkul. Angkor Wat itu tempat sembahyang umat beragama Buddha, jadi patutlah kita hormati. Bawalah penutup kepala karena cuaca bias sangat panas sekali, jangan lupa bawa air putih biar ga dehidrasi.

Happy Travelling

1 Comment

  1. Saya selalu suka baca postingan orang yang ke Angkor Wat sejak matahari terbit lalu keliling-keliling kompleks candi itu… dan senyum-senyum sendiri ngebayangin panasnya apalagi datengnya bulan April atau Mei yang memang merupakan bulan terpanas di sana. Pasti geraaaaahhh banget… 😀 Ditunggu cerita Phnom Penhnya… pasti seru juga hahahaha…

    Suka

Tinggalkan Balasan ke ceritariyanti Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.