Sisi Kelam Kehidupan di Sekitar Delhi

Dalam satu perjalanan wisata selalu ada sisi kelam yang selalu menjadi perhatian saya. Saya suka melihat sekitar saya, bagaimana kehidupan orang lokal. Itulah sebabnya saya dan suami lebih suka travelling sendiri, tanpa menggunakan jasa tour guide, kecuali memang diharuskan!

Berjalan dengan rute sendiri memungkinkan saya dan suami bisa lebih melihat sisi lain dari kehidupan sebuah kota atau desa yang kami kunjungi. Dari perjalanan di India bulan lalu ada satu catatan yang masih tersimpan di hati saya, soal penduduk lokal India terutama yang berada di Delhi, Agra dan Jaipur.

Tiba dari Srinagar kami naik taxi bandara menuju Paharganj. Paharganj merupakan pusat pasar turis yang cukup padat. Banyak penjual souvenir di sana. Tak hanya untuk turis, pasar ini juga melayani kulakan partai besar untuk import. Sepertinya banyak juga orang yang datang untuk berdagang di sini. Terlihat dari banyaknya counter jasa pengiriman barang yang tersedia.

Di malam hari, pasar ini kedengaran sangat berisik sekali. Suara deru mobil yang lalu lalang, klakson yang dibunyikan berkali kali memekakkan telinga. Tak ada yang mengalah saling serobot, padahal jalanannya cukup sempit. Beradu antara pejalan kaki dan pengendara bermotor, belum lagi becak yang nyelonong seenaknya, ditambah pengendera roda dua yang ngebut seolah olah tanpa rem, tanpa takut nyerempet orang lain, terutama pejalan kaki. Sumpek iya.

Belum lagi teriakan para pedagang yang menjajakan barangnya kepada orang orang yang melintas. Mereka punya keunikan sendiri saat menawarkan barang dagangan. Ketika calon pemblei terlihat tertarik dengan satu barang mereka menggiring  ke loteng kios tempat mereka berjualan. Alasannya, gudang mereka ada di atas, pilihan lebih banyak. Sampai di atas, semua stock barang yang tersedia akan dikeluarkan. Memang sangat banyak pilihan membuat pembeli bingung sendiri memilihnya.

Tak hanya itu, mereka juga akan mengelilingi pembeli dengan dua atau tiga orang pelayan tokonya, yang membuat pembelisemakin sungkan untuk mereka, karena mereka sangat ramah. Tak pernah keberatan mengobrak abrik semua isi gudang demi pembeli mendapatkan barang yang dimau. Keramahan ini membuat sungkan untuk tidak membeli, walaupan kadang seperti paksaan jika menolak untuk melihat lihat barang yang lain.

Di pagi hari saya coba berjalan di sekitar Paharganj, saat toko toko masih tutup dan jalan masih sepi. Saya melihat sampah banyak berserakan. Sekelompok anjing yang mengais sampah mencari makanan tersisa. Ada sapi yang tertambat. Kotoran binatang di mana mana, juga kotoran manusia. Bau pesing sangat terasa. Sungguh suasana pagi yang tak menyenangkan.

Siangnya kami mengunjungi Red Fort yang berdekatan dengan pasar terbesar di Delhi, yakni Chadni Chowk. Saya, sebagai orang yang suka belanja tentunya memasukkan pasar ini sebagai salah satu tujuan yang harus kami singgahi. Saya suka pasar tradisional, karena di sana bisa dilihat bagaimana cara orang lokal berdagang, juga bagaimana sisi kehidupan lain dari sebuah kota.

Dari Red Fort kami berjalan kaki, melewati satu perempatan jalan yang sangat ramai sekali. Orang berjalan lalu lalang harus beradu cepat dengan kenderaan bermotor lainnya. Taka da yang mau mengalah, suara bisingnya melebih lagi Paharganj. Semuanya berjalan seolah olah tanpa aturan, padahal ada lampu pengatur jalan di situ.

Terburu buru berjalan dikarenakan banyaknya orang, kami masuk melalui jalan yang salah menuju Chadni Chowk. Ya, kami kesasar di sisi belakang pasar. Di sana terasa bau pesing yang bikin mual dan mau muntah. Jalanannya sangat kotor. Banyak terlihat tumpukan kain yang digulung, juga semacam kasur yang digulung. Saya tidak tahu tempat apa ini. Semakin jauh kami berjalan, barulah kami sadar ini tempat perkampungan kumuh. Tempat sebagian gelandangan Delhi bermukim.

Jumlah tak hanya satu, dua atau tiga. Mereka sangat banyak. Mereka meletakkan barang barangnya di atas pohon, di halte bus. Dan tempat tempat lain yang memungkinkan mereka bisa tinggal. Mereka hidup dengan menggelandang. Kebanyakan dari mereka adalah pengemis. Saya hanya bisa tertegun melihat sisi kelam kota Delhi ini. Saya tak menyangka.

Mereka hidup sangat miskin, bahkan mungkin secara turun menurun. Mungkinkah mereka ini yang disebut kaum Paria, kaum terbuang yang tak dianggap dari kebudayaan India Kuno ? Mereka lebih rendah dari kaum Sudra, mereka yang menderita karena diskriminasi bahkan dianggap setara dengan binatang. Apakah itu masih terjadi sampai di zaman sekarang ? Di zaman kesetaraan hak azasi manusia sudah diterapkan di segala bangsa termasuk India.

Saya tak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa bertahan hidup ditengah dinginnya kota Delhi dengan suhu di malam hari bisa mencapai 1 derajat Celsius. Bagaimana anak anak mereka, tak adakah tempat penampungan saat musim dingin tiba ? Pemandangan serupa juga saya lihat ketika memasuki kota Agra dan Jaipur. Anak anak kecil yang berada di perempatan jalan ditemani kakaknya yang juga masih anak anak. Siapa yang bertanggungjawab atas mereka ?

Sepanjang perjalanan saya banyak memikirkan ini, bagaimana suatu kaum bisa terlahir miskin secara turun temurun, kutukankah ? Apakah mereka tak berusaha memperbaiki nasibnya, bagaimana campur tangan pemerintah.

Kemegahan benteng benteng yang kami kunjungi ternyata tak bisa menjadi tempat berlindung kaum terbuang ini. Benteng benteng itu hanya jadi tonggak sejarah yang bisu akan besarnya sebuah kerajaan di masa lalu.  Dan rakyat miskin yang terbuang itu sudah ada sejak turun temurun, bahkan usianya jauh lebih tua dari benteng benteng megah ini. Betapa sangat tak terpikirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.