Wisata Ziarah Kyaiktiyo Pagoda dan Mistis Golden Rock

Kami tiba di Kinpun Village sekitar jam 4 sore. Kinpun Village adalah perkampungan penduduk tempat basecamp truk menuju puncak gunung Kyaiktiyo . Sepenglihatan Kinpun Village di saat kami tiba sangat sepi. Padahal menurut cerita yang kami dengar tempat ini sangat ramai dikunjungi oleh orang orang yang ingin ziarah. Tak ada keramaian yang bejibun seperti yang saya bayangkan.

Kinpun Village

Di sepanjang jalan utama terlihat banyak kios pedagang souvenir juga restaurant lokal. Jalanan terlihat rapi dan bersih. Tak banyak sampah berserakan atau warna merah di jalanan bekas ludah pemakan sirih seperti layaknya di Yangon. Orang lokal memang sangat suka makan sirih, mereka juga suka meludah di sembarang tempat.

Kami menghabiskan waktu sampai menjelang malam mengelilingi seputar perkampungan. Melihat basecamp truck, mencari lokasi terminal bus, mengambil photo, dan menonton orang lokal bermain sepak takraw ala Myanmar atau disebut chinlone. Kebetulan hotel tempat kami menginap terletak ditengah perkampungan, tepatnya di sudut pertigaan kampung Kinpun. Jadi sangat memudahkan kami menyusuri perkampungan.

Kami makan malam di sebuah restauran lokal. Menikmati makanan lokal sudah menjadi kebiasaan kami setiap berada dalam satu perjalanan. Meskipun di depan hotel kami ada sebuah fastfood KFC, kami tak tertarik ke sana. Untuk apa jauh jauh ke kampung orang kalau makannya yang ada di mana mana gampang ditemukan? Sensasinya menjadi kurang nikmat, ya kan….

Para bikku berjalan di pagi hari mengumpulkan makanan dari penduduk. Para bikku memfasilitasi penduduk dengan cara ini karena memberi kesempatan untuk umat menghapus karma di kemudian hari.

Lelah sepanjang hari berjalan, malamnya saya tertidur pulas. Sekitar jam setengah dua pagi saya terbangun oleh suara suara yang berisik setengah berteriak, seperti memanggil manggil. Saya lihat keluar jendela suara apa itu ? Saya pikir suara kondektur yang memanggil manggil sewa, masa sih jam dini hari gini. Waktu saya lihat keluar, ternyata suara orang yang memanggil orang orang yang lewat.

Orang Lokal turun gunung Kyaiktiyo

Ternyata di luar sana banyak bus,juga mobil sewaan yang tiba dinihari di Kinpun. Mungkin mereka datang dari daerah jauh. Tampak orang berbondong bondong membawa barang sambil dipanggul. Orang yang berteriak memanggil tadi menawarkan untuk makan di restaurant mereka. Oh begitu ternyata. Saya tak lagi bisa tidur kemudian. Suami saya juga ikut terbangun jadinya karena suara berisik itu.

Tukang panggul barang ke pelataran pagoda

Setelah sarapan pagi di hotel, kami pergi keluar melihat suasana pagi di perkampungan. Di dekat basecamp truck kami lhat orang sangat ramai sekali. Dari mana mereka berbondong bondong membawa barang bawaan banyak sekali. Oh ternyata mereka orang orang yang baru turun gunung di pagi hari.

Truck ke atas gunung Kyaiktiyo

Mendadak perkampungan yang kemarin sore kami lihat sepi menjadi sangat ramai dengan orang yang hilir mudik. Ada yang menuju basecamp untuk berangkat ke puncak gunung ada juga yang baru turun gunung. Takjub juga saya melihat suasana pagi ini. Ternyata mereka berangkat pagi ke gunung pulang keesokan pagi harinya. Mereka menginap di puncak gunung ternyata.

Rerata mereka satu keluarga, ada bapa ibu, anak anak, kakek nenek juga mungkin kerabat lain. Mereka menyewa taxi semacam pick up berukuran L300. Semuanya bersatu di dalam pick up tersebut bersama barang bawaannya. Yang datang jauh naik bus tak terlalu banyak, biasanya hanya yang pasangan saja atau hanya orang orang muda. Para turis biasanya datang dengan rombongan tersendiri.

Sekitar jam 9 pagi kami berangkat naik gunung dengan menggunakan truck yang ada di basecamp itu. Satu satuny angkutan yang bisa naik ke puncak gunung adalah truck ini. Trucknya cepat penuh karena banyaknya orang yang berdatangan. Tak menunggu lama kami sudah berangkat.

Perjalanan hanya sekitar 45 menit. Tapi cukup membuat ngeri ngeri sedap, karena ternyata jalanan sangat berkelok kelok dan terjal. Di pelataran bukit para penumpang masih ketawa ketiwi sambil sibuk photo photo selpie. Begitu mulai naik ke tanjakan yang tepi jurang terjal semua penumpang terdiam. Mungkin berdoa karena cukup menegangkan juga melihat sisi jurang di pebukitan. Saya juga diam, menahan rasa mau muntah, karena perjalanan semakin menaik tinggi.

Kyaiktiyo Pagoda dan Golden Rock sedang ditutupi untuk perbaikan dan sedang ada upacara keagamaan

Pagoda yang kami tuju berada di puncak gunung Kyaiktiyo. Kyaiktiyo Pagoda ini dibangun diatas sebuah batu yang menggantung di tepi tebing bukit disebut Golden Rock. Dipercaya bahwa batu ini mempunyai kekuatan mistis. Batu ini diangkat dari satu dengan kekuatan supranatural oleh seorang raja yang berkuasa di Mon State pada saat itu. Legendanya mengatakan untuk menjaga keseimbangan batu tersebut ditahan dengan menggunakan rambut Buddha. Golden Rock dan Kyaiktiyo Pagoda termasuk 3 besar tempat ziarah umat Buddha di Myanmar setelah Shwedagon-Yangon dan Mahamuni-Bagan.

Membakar lilin dan berdoa
Memanjatkan doa doa
Berdoa dengan Khyusuk

Begitu memasuki pelataran halaman Golden Rock suasana  terlihat sangat ramai. Berbeda dengan di Kinpun di sini orang orang lebih riuh. Pedagang souvenirnya juga sangat ramai. Oh jadi di sinilah rupanya orang orang itu berkumpul. Kami mengitari pelataran yang luas itu. Kami melihat orang orang memasang tenda, di situlah mereka menginap  bukan di hotel.

Pelataran tempat orang lokal menginap semalaman

Udara terasa sejuk, panas matahari jadi tak terasa menyengat. Saya tak bisa membayangkan bagaimana dinginnya malam hari. Membayangkan orang orang menginap di tempat terbuka di ketinggian gunung sekitar 3.000 dpl. Mereka hanya pakai tenda seadanya, yaitu selimut yang dibentangkan kemudian ujungnya diikat tali sana sini, hanya itu.

Kios souvenir di puncak gunung

Yang bikin saya lebih heran lagi mereka juga membawa anak anak bahkan masih bayi. Bagaimana mereka bisa bertahan tidur semalaman tanpa tempat tertutup. Mereka juga membawa makanan sendiri, terlihat dengan adanya rantang dan termos tempat makanan. Saya ga tahu berapa lama mereka menginap di atas gunung.

Menurut keyakinan mereka, mendatangi Golden Rock 3 kali setahun akan mendatangkan keberuntungan. Saya melihat mereka penuh semangat, khusyuk dalam berdoa seperti tak terbebani apapun.

Kyaiktiyo Village

Di atas gunung itu sebenarnya banyak tersedia penginapan murah bahkan hotel, juga restaurant tapi untuk mengirit biaya mereka tak menginap dan makan di sana, mungkin. Penjaja makanan banyak berkeliaran di seputar pelataran juga disediakan air panas bagi yang membutuhkannya.

Kami mencoba menelusuri semua perkampungan dengan menuruni tangga terjal yang tersedia. Sepanjang kiri kanan tangga banyak pedagang souvenir. Juga pedagang minyak urut sekalian juga tukang urutnya. Yang bikin saya enggan membelinya, minyak urutnya terbuat dari minyak binatang termasuk primata macam kera. Terpajang ada tengkoraknya di situ.

Orang local melempar koin ke lubang batu berharap ada keberuntungan

Melewati para pedagang itu ada juga tersedia rumah makan juga tempat sembahyang. Tempat yang dianggap punya sejarah untuk pemujaan. Ada batu bersusun berlubang, di mana orang lokal mencoba melempari koin ke dalamnya, jika masuk ke dalam lubang batu tersebut dipercaya akan mendapat keberuntungan.

Jauh juga jalan bertangga yang kami telusuri, ditengah jalan saya hampir menyerah. Tapi rasa penasaran sampai kepuncak gunung yang satunya membuat saya masih semangat. Tiba di puncak gunung yang ada pagodanya juga, kami bisa dengan leluasa melihat pemandangan alam sekitarnya juga perkampungan Kyaiktiyo.

Jalan memutar dengan tangga tersebut membawa kami kembali ke pelataran Kyaiktiyo Pagoda. Perkampungan yang tampaknya baru ini tertata rapi, sama seperti di Kinpun, jalan dan restaurannya bersih. Hanya saja lebih mahal sedikit.

Salah satu pengunjung mancanegara 😀

Kami tak menunggu sampai sunset tiba, kami memutuskan untuk turun, seharian di atas gunung cukuplah itu. Ditambah lagi keterbatasan truck yang turun ke bawah tidak sampai malam. Jalanan yang terjal berliku ngeri juga kalau pulang malam.

 Kami turun meninggalkan orang orang yang masih tinggal semalaman. Mungkin ada yang mereka tunggu semacam doa pagi.  Kami meninggalkan gunung dengan orang orang di sana yang memiliki keyakinan bahwa kekuatan mistis yang dipercaya bisa membawa keberuntungan.

Itulah sedikit cerita yang bisa saya bagikan tentang pengalaman saya melihat orang lokal menjalankan ritual ibadahnya, penuh semangat penuh harapan meskipun ada jarak, waktu,tenaga dan biaya yang harus dikorbankan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.