Pengalaman Pertama Berkelana Di Negeri Orang

Saya ingin berbagi cerita pengalaman pertama kali menginjakkan kaki di negeri orang. Negara pertama yang saya kunjungi adalah Singapura. Kebanyakan orang Indonesia kalau mau plesiran keluar negeri pertama kali pasti tujuan Singapura, Kualalumpur dan Bangkok. Tiga kota di Asia Tenggara itu sudah menjadi primadona kebanyakan orang Indonesia sejak dari dulu.

Teman saya bilang, setidaknya pijakkanlah kakimu di salah satu negara itu, karena sangat dekat Indonesia. Judulnya kamu sudah keluar negeri. Sudah tahu bagaimana berurusan dengan orang imigrasi, sudah punya stempel di passport. Sudah punya pengalaman lihat orang orang di luar negeri itu, bagaimana cara hidup mereka, budaya mereka. Begitulah kata teman saya, yang juga rekan kerja saya, dulu kala.

Kebetulan waktu itu saya punya teman dumay, namanya Gadis, tinggal di Singapura. Waktu itu saya pikir enak banget ya bisa tinggal di luar negeri. Saya juga lihat teman saya yang lain posting photo lagi leyeh leyeh di rerumputan taman menara Eiffel. Saya berpikir, kapan ya saya bisa sampai ke Eiffel ? Dua teman saya satu gereja saat itu juga berangkat ke Amerika dan Canada ikut suami. Enak banget, itulah pikiran saya. Dengan gaji pas pasan bagaimana saya bisa mewujudkan itu ?

Sampai akhirnya saya chattingan dengan teman dumay saya yang di Singapura. Saya bilang kopdar yuk, saya pengen ke Singapura, tapi tak berani berangkat sendiri. Niat saya ini saya ceritakan kepada sahabat saya alm. Maria yang sudah punya pengalaman ke Kualalumpur dan Umroh. Gayung bersambut, Maria juga mau ikut ke Singapura. Lantas bagaimana berikutnya ? Bikin saja dulu passportmu kata Maria waktu itu.

Saya mulai mengurus passport, pengalaman mengurus passport sendiri pernah saya tuliskan dulu. Tapi akan saya ceritakan sedikit kilasannya. Saya punya KTP Jaktim, saya pikir mengurusnya haruslah di Kanim Jaktim juga. Saya ke sana sampai jam 11 loket sudah tutup. Kata petugasnya harus datang pagi supaya dapat nomor antrian. Oleh petugasnya juga bilang, ga mesti ngurus di sini karena kejauhan dari domisili saya di Karawaci. Saya diarahkan untuk mengurusnya di Kanim Tangerang. Ok baiklah.

Mengurus passport ini sebenarnya ga ribet asal semua dokument pendukung dilengkapi. Waktu itu lampiran saya adalah surat keterangan kerja, photokopi KTP, Ijazah dan form isian dari Kanim. Setelah antri dari pagi saya dapat nomor dan document saya diterima oleh petugas, saya bayar Rp. 255.000 waktu itu. Ambil photo biometric ya istilahnya, kemudian wawancara, tiga hari kemudian passport jadi. Urusan passport beres sudah.

Sekarang mulai mencari tiket, waktu itu masih gencar gencarnya promosi A*rasia, tapi saya tak dapat tiket murah sesuai tanggal yang saya rencanakan. Akhirnya keberangkatan saya tunda sampai tiga kali, sampai saya dapat tiket yang benar benar murah Rp. 500.000 PP, Jakarta-Singapura. Itulah awalnya saya mulai bikin Itinenary sendiri. Oleh teman saya menyarankan, beli voucher hotel di Ag*da aja. Maka mulailah lagi cari cari hotel murah meriah. Alamak hotel di Singapura itu mehong banget. Gimana ini ?

Pertama kali menjejakkan kaki di Singapure, 31 Agustus 2013

Waktu itu saya cari hotel paling murah dapatnya di daerah Geylang, sekitar Rp. 600.000 permalam. Bagi dua dengan Maria, setelah hitung hitungan, kami putuskan ambil kredit bayar 3 kali cicilan. Entah kenapa saya tak kepikiran untuk ambil Hostel. Maklum pemula, masih kikuk. Tapi sampai sekarangpun saya tak pernah ambil hostel kalau lagi berkelana. Saya lebih suka hotel, biarpun kecil nyempil tapi lebih privacy dibandingkan hostel. Belagu banget ya saya…hahaha

Setelah tiket pesawat dan hotel di tangan, sebelum berangkat kami tukar uang dulu. Budget saya untuk biaya selama di sana 3 hari 2 malam hanya 2 juta. Hanya itu uang saya yang tersedia. Saya harus irit, harus cukup. Demikianlah amunisi yang saya persiapkan. Untungnya waktu itu saya sudah punya kartukredit, jadi untuk tiket pesawat dan voucher hotel bisa dibayar kemudian.

Jadi kalau saya total semua pengeluaran saya sekitar 3 juta, saya sudah liburan ke Singapure. Sebelumnya saya juga dapat tawaran ambil paket tour Singapure seharga 5 juta. Saya tidak ambil karena saya memang tak punya uang segitu banyak.

Kami berangkat bulan September berbarengan ulangtahun saya. Setelah saya kontak teman saya Gadis, dia bilang ga bisa jemput karena masih tugas kerja. Untunglah teman saya Maria sudah cekatan, saya agak lemot soalnya…hahaha. Kami putuskan naik taxi saja ke hotel, daripada rempong di tengah jalan. Kami tak punya internet waktu itu, hanya mengandalkan wifi airport. Namanya irit. Backpacker kere…hahaha.

Merlion yang ikonik

Sampai di hotel kawasan Geylang, kami check in kemudian istirahat sebentar, habis itu keluar menyusuri kota. Untuk urusan bikin itinerary saya bisa, tapi untuk urusan cari lokasi yang ditujukan saya serahkan sama Maria, dia lebih up to date dan lebih pintar baca peta dan petunjuk jalan. Saya gaptek, dulu punya hape jadul sudah smartphone tapi ga cekatan pakai aplikasi yang ada.

Cari Modal Pulang…hahah

Saya lupa urutan tujuan kami waktu itu, yang saya ingat kami ke Merlion, Marina Bay, kemudian nyasar di taman yang saya ga tahu namanya. Mutar mutar cari penyeberangn ke MRT ga ketemu, baru kemudian tahu penyeberangan lewat jalan bawah….hahaha.

Besoknya teman saya Gadis datang menyusul ke hotel, membawa kami jalan sampai ke Universal Studio, makan soup ikan yang enak banget tapi saya ga tahu nama tempatnya, semacam food court gitu. Malamnya kami ke Orchard Road. Cuman duduk doang sambil makan es krim, ga belanja! Kami juga pergi ke pasar Bugis kalau ga salah namanya, beli souvenir. Terus ke satu mall namanya saya lupa, Maria belanja mainan anak di sana.

Photo di luar doang, ga masuk, mehong…hahaha

Waktu malam kami pulang ke hotel, kami melewati lorong pertokoan yang ada di situ. Banyak perempuan berderet dengan pakaian minim berdandan menor. Jujur, saya ga tahu ngapain mereka di situ. Saya jadi merasa ga enak sama Maria, karena Maria ini wanita soleha berjilbab. Tapi saya lihat dia santai saja, ga protes kenapa ambil hotelnya dekat daerah beginian. Terakhir kami tahu, di daerah Geylang itu ternyata memang banyak prostitusi. Ngakak saya kalau ingat itu.

Pasar Bugis

Tapi cari makan memang lebih gampang di daerah Geylang ini. Ada pasar Geylang namanya menyediakan masakan Indonesia dan murah. Kami ga singgah sih. Kami makan di dekat hotel kami, ada rujak India yang enak katanya. Saya ga suka, Maria yang doyan sampai bawa pulang sebagai oleh oleh buat suaminya.

Pulang ke Jakarta, sempat ada drama di imigrasi. Saya lupa menyelipkan di mana arrival card. Jadilah saya digiring keluar, tapi belum sempat masuk kantor pengamanan imigrasi, itu kartu ketemu nyelip di dompet, untungnya ga saya buang. Setelah dicek, akhirnya saya dikasih ijin masuk gate keberangkatan.

Di Changi, sebelum pulang kampung

Itulah sedikit cerita pengalaman saya pertama kali berkelana ke luar negeri. Waktu itu saya masih sendiri, belum nikah. Sekarang berdua suami, saya sudah pergi ke 12 negara. Masih sedikit dibandingkan suami saya sendiri. Dibandingkan juga orang lain yang sudah sampai ke 45 bahkan 50 negara. Orang orang itu saya kenal di dunia maya juga. Mereka juga bermula dari mimpi.

Sama seperti dulu saya mengangankan bagaimana bisa keluar negeri, sekarang saya mengangankan bagaimana  bisa sampai ke puluhan negara begitu. Bisakah saya ? Saya mengangankan melihat cantiknya aurora di Rusia, menemui teman saya di Amerika dan Australia, trekking di Nepal, merasakan panasnya gurun Sahara dan dinginnya New Zealand. Bersafari di Afrika, melihat indahnya Lebanon dan berlayar ke Karibia …

Tips dan Trick : Jangan pernah takut memulai langkah pertama, karena langkah berikutnya akan menyusul. Jangan berpikiran punya uang banyak dulu baru pergi liburan. Tapi pergilah juga dengan seberapa uang yang ada milikmu. Besar kecilnya pengeluaran kamulah yang mengaturnya. Jangan pernah menutup pertemanan dengan siapapun di dumay maupun dunyat, nyatanya pengalaman saya pertama justru dari teman dumay yang saya ga pernah kenal sama sekali di dunia nyata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.